Dalam kehidupan sehari-hari, kita mungkin sering mendengar
kalimat yang mengatakan “Menerima apa adanya.” Atau mungkin pernah mengalaminya
di saat ada seseorang yang mengatakan, “aku akan menerima kamu apa adanya.”
Pada awalnya, kalimat itu menurutku menegaskan sebuah ketulusan. Tapi ternyata,
makna dari kalimat tadi tidaklah selalu baik. Kita harus melihat terlebih
dahulu dari sudut pandang mana kalimat itu di tempatkan.
Berdasarkan uraian yang pernah saya dapatkan dari para
penulis, motivator maupun ustadz, pola pikir menerima apa adanya bisa
mengandung makna yang positif dan juga negatif. Saya akan mencoba untuk
menguraikan pola pikir ini dari dua sudut pandang yang berbeda tadi berdasarkan
analogi pribadi saya. Pola pikir menerima
apa adanya bisa menjadi makna yang kurang baik jika di posisikan kepada
sesuatu hal yang tidak menjadikan seseorang mau belajar atau mengambil
pembelajaran dari setiap hal yang di terimanya. Misalkan ketika kita mencintai
seseorang dan berusaha menerima dia apa adanya, tanpa kita sadari kita membiarkan
orang yang di cintai tidak ada spirit
fighterr (semangat pejuang) dan soul of learners (jiwa pembelajar), tidak
ada keinginan untuk merubah dan memperbaiki dirinya. Pesimis terhadap dirinya
sendiri yang apa adanya. Sedangkan kita semua tahu, hidup ini akan terus
berjalan, roda kehidupan senantiasa berputar, dan untuk bisa menjalaninya
dengan benar harus ada keinginan dari diri sendiri untuk mengubah nasib menjadi
lebih baik dengan terus memperbaiki diri.
Untuk masalah cinta ataupun sesuatu yang ada kaitannya dengan
sebuah hubungan, di mana ada dua pihak yang terlibat di dalamnya, cinta akan
senantiasa menuntut adanya perubahan
ke arah yang lebih baik. Jika kita hidup bersama seseorang yang tidak pernah
ingin mengubah diri dan kehidupannya menjadi lebih baik, bagaimana dia akan
bisa membimbing kita menjadi lebih baik pula? Begitu juga sebaliknya, ketika
kita pesimis terhadap diri dan kehidupan kita, kita tidak akan bisa membantu
dan memberikan pengaruh yang positif untuk pasangan maupun orang-orang di sekitar
kita. Jauhilah prinsip menerima apa adanya untuk kondisi yang satu ini,
bangunlah semangat pembelajar. Tanamkanlah sikap ingin terus mencari ilmu,
memperbaiki diri dan tidak pernah puas terhadap kemampuan dan kapasitas diri,
demi perubahan dan kehidupan yang lebih baik. Saya yakin, seseorang yang mau
terus belajar dan memperbaiki diri, semakin hari karakter dan kehidupannya akan
semakin baik, semakin berkembang dan pola pikirnya akan senantiasa luas dan
bijak.
Untuk sudut pandang yang kedua, yaitu prinsip menerima apa
adanya yang mengandung makna positif yaitu erat hubungannya dengan sikap
ikhlas. Hal yang harus di tegaskan di sini adalah pasrah tidak selalu memiliki
konteks yang negatif. Pasrah bisa mengandung makna berserah diri. Dan berserah
diri dekat sekali hubungannya dengan sikap ikhlas. Prinsip menerima apa adanya
mengandung makna ikhlas ketika seseorang yakin akan kekuasaan Allah dan
senantiasa berprasangka baik terhadap kehendak-Nya. Arti menerima apa adanya di
sini lebih erat hubungannya dengan makna mensyukuri. Menerima apa yang telah
Allah gariskan dan takdirkan untuk kita. Setiap orang memiliki jalan hidupnya
masing-masing, tidak semuanya sama.
Makna menerima apa adanya yang ingin saya tegaskan di sini
adalah syukurilah semua yang kita miliki, belajar menerima apa yang telah Allah
gariskan untuk kita. Sesuatu akan
terasa sebagai sebuah beban jika kita menganggapnya semua itu sebagai
beban. Kita tidak menyadari sudah
membuat ulah kepada diri sendiri. Seseorang pernah mengatakan, “Bersyukur saja,
terima apa adanya, jalani semuanya dengan penuh keikhlasan dan berserah diri.
Teruslah berbuat kebaikan, tidak perlu memikirkan apa dan siapa, kelak
kebahagiaan akan datang dengan sendirinya.”
Semoga dengan pembahasan kali ini bisa membuka pemikiran kita
semua tentang makna dari prinsip menerima apa adanya. Kita bisa benar-benar
membedakan mana prinsip yang baik dan mana yang tidak baik. Dengan begitu kita
tidak akan salah dalam menafsirkan dan mengamalkannya dalam kehidupan
sehari-hari kita.
By. Shanty Wiryahaspati
Tidak ada komentar:
Posting Komentar