Senin, 08 September 2014

Makna Menerima Apa Adanya

Dalam kehidupan sehari-hari, kita mungkin sering mendengar kalimat yang mengatakan “Menerima apa adanya.” Atau mungkin pernah mengalaminya di saat ada seseorang yang mengatakan, “aku akan menerima kamu apa adanya.” Pada awalnya, kalimat itu menurutku menegaskan sebuah ketulusan. Tapi ternyata, makna dari kalimat tadi tidaklah selalu baik. Kita harus melihat terlebih dahulu dari sudut pandang mana kalimat itu di tempatkan.

Berdasarkan uraian yang pernah saya dapatkan dari para penulis, motivator maupun ustadz, pola pikir menerima apa adanya bisa mengandung makna yang positif dan juga negatif. Saya akan mencoba untuk menguraikan pola pikir ini dari dua sudut pandang yang berbeda tadi berdasarkan analogi pribadi saya. Pola pikir menerima apa adanya bisa menjadi makna yang kurang baik jika di posisikan kepada sesuatu hal yang tidak menjadikan seseorang mau belajar atau mengambil pembelajaran dari setiap hal yang di terimanya. Misalkan ketika kita mencintai seseorang dan berusaha menerima dia apa adanya, tanpa kita sadari kita membiarkan orang yang di cintai tidak ada spirit fighterr (semangat pejuang) dan soul of learners (jiwa pembelajar), tidak ada keinginan untuk merubah dan memperbaiki dirinya. Pesimis terhadap dirinya sendiri yang apa adanya. Sedangkan kita semua tahu, hidup ini akan terus berjalan, roda kehidupan senantiasa berputar, dan untuk bisa menjalaninya dengan benar harus ada keinginan dari diri sendiri untuk mengubah nasib menjadi lebih baik dengan terus memperbaiki diri.

Untuk masalah cinta ataupun sesuatu yang ada kaitannya dengan sebuah hubungan, di mana ada dua pihak yang terlibat di dalamnya, cinta akan senantiasa menuntut adanya perubahan ke arah yang lebih baik. Jika kita hidup bersama seseorang yang tidak pernah ingin mengubah diri dan kehidupannya menjadi lebih baik, bagaimana dia akan bisa membimbing kita menjadi lebih baik pula? Begitu juga sebaliknya, ketika kita pesimis terhadap diri dan kehidupan kita, kita tidak akan bisa membantu dan memberikan pengaruh yang positif untuk pasangan maupun orang-orang di sekitar kita. Jauhilah prinsip menerima apa adanya untuk kondisi yang satu ini, bangunlah semangat pembelajar. Tanamkanlah sikap ingin terus mencari ilmu, memperbaiki diri dan tidak pernah puas terhadap kemampuan dan kapasitas diri, demi perubahan dan kehidupan yang lebih baik. Saya yakin, seseorang yang mau terus belajar dan memperbaiki diri, semakin hari karakter dan kehidupannya akan semakin baik, semakin berkembang dan pola pikirnya akan senantiasa luas dan bijak.

Untuk sudut pandang yang kedua, yaitu prinsip menerima apa adanya yang mengandung makna positif yaitu erat hubungannya dengan sikap ikhlas. Hal yang harus di tegaskan di sini adalah pasrah tidak selalu memiliki konteks yang negatif. Pasrah bisa mengandung makna berserah diri. Dan berserah diri dekat sekali hubungannya dengan sikap ikhlas. Prinsip menerima apa adanya mengandung makna ikhlas ketika seseorang yakin akan kekuasaan Allah dan senantiasa berprasangka baik terhadap kehendak-Nya. Arti menerima apa adanya di sini lebih erat hubungannya dengan makna mensyukuri. Menerima apa yang telah Allah gariskan dan takdirkan untuk kita. Setiap orang memiliki jalan hidupnya masing-masing, tidak semuanya sama.

Makna menerima apa adanya yang ingin saya tegaskan di sini adalah syukurilah semua yang kita miliki, belajar menerima apa yang telah Allah gariskan untuk kita. Sesuatu akan terasa sebagai sebuah beban jika kita menganggapnya semua itu sebagai beban.  Kita tidak menyadari sudah membuat ulah kepada diri sendiri. Seseorang pernah mengatakan, “Bersyukur saja, terima apa adanya, jalani semuanya dengan penuh keikhlasan dan berserah diri. Teruslah berbuat kebaikan, tidak perlu memikirkan apa dan siapa, kelak kebahagiaan akan datang dengan sendirinya.”

Semoga dengan pembahasan kali ini bisa membuka pemikiran kita semua tentang makna dari prinsip menerima apa adanya. Kita bisa benar-benar membedakan mana prinsip yang baik dan mana yang tidak baik. Dengan begitu kita tidak akan salah dalam menafsirkan dan mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari kita.

By. Shanty Wiryahaspati


Tidak ada komentar:

Posting Komentar