Setiap muslimah yang saat ini sudah memakai jilbab atau kerudung, sebelumnya pastinya mengalami sebuah proses yang pada akhirnya memberikan kemantapan hati dan memutuskan untuk berhijab. Seperti kita semua tahu sebagai seorang muslimah, bahwa menutup aurat merupakan kewajiban yang Allah berikan kepada kita. Memang tidak semua orang cepat mempunyai kemantapan hati dan keikhlasan untuk melakukannya. Terlalu banyak godaan dan janji-janji dunia yang menggoyahkan kewajiban ini. Namun aku selalu percaya, jika Allah akan memberikan hidayah, pertolongan dan petunjuk kepada hamba-hamba yang di kehendaki-Nya.
Alhamdulillah, Allah masih menyayangi aku dengan memberikan hidayah-Nya berupa kemantapan dan keikhlasan hati untuk bisa melakukan perintah-Nya ini. Walaupun membutuhkan proses dan waktu yang tidak sebentar buatku sampai pada akhirnya memutuskan untuk berjilbab. Karena, aku tidak ingin sampai suatu saat nanti membuka lagi jilbab yang sudah aku kenakan, untuk alasan apapun yang melanggar norma agama.
Proses perubahan yang terjadi padaku, berawal ketika aku berkumpul (reuni) dengan teman-teman semasa SMU. Pada saat itu, dari semua teman perempuan yang datang, ternyata hanya aku yang tidak memakai jilbab. Timbullah rasa malu yang teramat sangat. Aku merasa tidak memakai atribut yang seharusnya sebagai seorang muslimah. Dari rasa malu itulah, muncul keinginan dalam hatiku untuk memakai jilbab, baru keinginan. Selain itu, pada keseharianku, ketika aku berada dalam lingkungan pekerjaan maupun ketika pergi ke suatu tempat, orang-orang yang tidak mengenalku, mengira aku adalah seorang non muslim. Mungkin karena wajahku terlihat seperti keturunan tionghoa. Aku kadang merasa sedih dengan kondisi ini, dan pernah terlintas dalam hatiku, “ bagaimana mereka (pria) yang tidak mengenalku tahu kalau aku sebenarnya seorang muslim?”.
Proses itu berlanjut ketika keinginan dalam hati untuk memakai jilbab semakin besar. Aku banyak bertanya kepada teman-teman yang sudah lebih dulu memakai jilbab. Mereka sangat mendukung sekaligus mengingatkan bahwa akan banyak sekali godaan ketika seseorang telah memutuskan untuk berjilbab. Oleh karena itu, temanku menyarankan aku untuk mencari referensi-referensi yang bisa membuat aku semakin yakin dan mantap serta meminta petunjuk dan pertolongan Allah agar aku di berikan kemudahan untuk melaluinya. Aku memulai semua itu dengan mencarinya dalam Al-Qur’an, buku-buku islami tentang berjilbab dan juga tausiyah-tausiyah.
Karena keinginan dalam hatiku semakin lama semakin kuat, akhirnya aku memutuskan menjalaninya secara perlahan-lahan. Di mulai dengan memakai baju tangan panjang dan celana panjang. Baju-baju berlengan pendek aku sisihkan dan hampir semuanya aku berikan kepada saudara yang mungkin masih membutuhkan. Pelan-pelan, setiap aku membeli baju, pasti aku lebih memilih baju muslim atau baju berlengan panjang, agar tidak sia-sia dan pastinya bisa aku pakai ketika aku berjilbab nanti. Saat itu aku sudah mulai terbiasa memakai baju lengan panjang kemanapun aku pergi dan lebih tepatnya membiasakan diri. Namun lama kelamaan, aku merasa ada yang kurang, dan merasa malu lagi, ketika baju yang aku pakai sudah menutup aurat, namun tidak di lengkapi dengan jilbabnya.
Rasa malu itu mendorongku untuk mencari jilbab-jilbab ke sebuah toko busana muslim. Aku mulai membeli dan mengumpulkannya sedikit-sedikit. Selain itu, hati ini merasa senang sekali setiap melihat wanita yang memakai jilbab, dan kelihatan cantik dengan balutan jilbab serta pakaian yang menutup auratnya. Kondisi demi kondisi membuat hatiku semakin yakin, mantap dan siap, namun tetap masih saja ada sedikit keraguan yang terselip dan bertanya-tanya, “apakah aku sudah benar-benar siap?”.
Allah benar-benar tahu gejolak dalam hati aku. Tahu kalau aku sudah mempunyai niat untuk berjilbab tapi masih ada keraguan di dalamnya. Ketika aku masih ada keraguan, kapan aku akan memulai memakai jilbab, Allah memberikan petunjuk-Nya melalui sebuah mimpi. Sampai detik ini aku merasa mimpi itu datangnya dari Allah. Sebuah mimpi yang bisa di sebut mimpi buruk, namun memberikan dampak yang sangat besar untuk kemantapan hatiku yang sedang di landa ragu. Aku tidak akan pernah lupa mimpi itu. Karena aku merasa yakin mimpi itu adalah petunjuk dari Allah, maka aku akhirnya memutuskan untuk mulai memakai jilbab secepatnya. Dan akhirnya, di awali dengan mengucapkan Bismillah, aku memutuskan memakai jilbab ketika bulan suci ramadhan tahun 2007, tepatnya 1 Oktober 2007. Satu moment yang sangat bersejarah buatku. Moment di mana perubahan dan tantangan menantiku.
Perjalanan hidupku ini, telah mengubah pemahamanku tentang hidayah. Seperti yang kita tahu, setiap muslimah yang di lontarkan sebuah pertanyaan, “kenapa belum mamakai jilbab, kan itu kewajiban buat seorang muslimah?”. Kebanyakan dari mereka menjawab, karena belum ada hidayah, hatinya belum siap atau mantap, takut susah mendapat jodoh atau pekerjaan, dan banyak juga yang berkomentar, lebih baik hatinya dulu saja yang berjilbab. Karena mereka melihat kenyataan yang ada, kalau wanita yang berjilbab, hanya berupa kedok untuk menutupi kekurangannya atau keburukannya. Astaghfirullah. Fenomena ini benar-benar menjadi cambuk buatku, sekaligus peringatan karena aku tidak ingin semua orang mempunyai persepsi yang sama tentang wanita berjilbab. Dan menjadi motivasiku, dengan membuktikan bahwa tidak semua wanita berjilbab seperti apa yang mereka katakan, dengan cara menjaga penampilan dan terutama sikap.
Buatku pribadi, berjilbab benar-benar menjadi sebuah identitas diri, bahwa aku seorang muslimah. Karena melihat kenyataan sebelumnya yang menyangka aku seorang non muslim ketika belum berjilbab. Jilbab adalah pakaian buatku, sehingga ada perasaan tidak nyaman ketika harus bertemu yang bukan muhrimku. Satu hal penting yang menjadi alasan aku memantapkan diri untuk memakai jilbab adalah pertanyaan dalam diriku, “bagaimana kalau aku meninggal nanti, aku dalam kondisi belum berjilbab?”. Ada ketakutan yang begitu besar, karena kita manusia tidak pernah tahu akan hidup sampai kapan, kematian akan datang tanpa kita tahu. Kalau kita tidak mempersiapkan diri, kita tidak akan pernah siap.
Jangan pernah menunggu hidayah itu datang kepada kita, karena yang sebenarnya adalah hidayah itu datang dengan upaya keras untuk mencarinya. Jadi bukan kita menunggu hidayah, tetapi mencari atau menjemput hidayah. Jangan pernah merasa takut, dengan berjilbab, kita akan sulit mencari pekerjaan atau mendapatkan jodoh. Satu hal yang ingin aku tegaskan di sini, ketika aku memutuskan untuk berjilbab, tidak ada sedikitpun ketakutan atau keraguan akan hal itu. Karena aku yakin, Allah akan menolong hamba-Nya yang mengikuti perintah-Nya. Buang jauh-jauh pemikiran seperti itu. Walaupun banyak kenyataan yang terjadi di mana perusahaan tempat kita bekerja atau yang menerima kita bekerja, meminta untuk melepaskan jilbab karena tidak di perbolehkan dalam lingkungan kerja mereka. Jangan putus asa, lebih baik tolak pekerjaan itu. Mungkin itu cara Allah memperingatkan kita bahwa itu bukan tempat yang terbaik buat kita. Jangan takut kehilangan pekerjaan atau takut sulit mendapatkan pekerjaan lagi. Yang memberi rejeki itu Allah, jadi kenapa harus merasa takut? Carilah pekerjaan yang memperbolehkan kita untuk tetap memakai jilbab, atau bahkan kalau bisa, carilah pekerjaan yang berhubungan dengan unsur keislaman atau yang mengharuskan pegawainya untuk berjilbab.
Semoga pengalaman pribadiku ini bisa membuka pikiran teman-teman dan mengubah persepsi yang salah tentang berjilbab. Memutuskan berjilbab bukan akhir dari kewajiban kita, justru awal dari perubahan hidup kita, kebiasaan, yang menuntut konsistensi dan tanggung jawab yang besar dan juga awal bagi kita dalam menghadapi tantangan-tantangan dan godaan yang akan menghadang kita. Niatkan dengan ikhlas semata-mata untuk mendapatkan ridho Allah swt, dan yakinlah Allah akan memberikan petunjuk-Nya.
Proses menjadi muslimah yang shalehah bukan dengan menunggu akhlak menjadi baik baru kemudian berjilbab. Jika kita sudah bisa dan mampu berjilbab, lakukanlah! Maka kemudian Allah akan memberikan jalan dan menolong untuk memperbaiki akhlak, memperindah perangai dan menghapus segala kekhawatiran.
By. Shanty Wiryahaspati
Referensi : Gara-gara jilbabku-Kinoysan; Berbagai sumber
subhanallah ,pengelaman anda membuat saya perlahan mantap untuk berhijab yang baik dan benar
BalasHapusSubhanalloh bagus sekali pembahasanya. Ukhti, saudariku semua mari memakai jilbab syar'i. Bagi yang belum punya bisa dapetin di sini ni Rumah Gamis. Net. InsyaAlloh murah dan Real Syar'i. Sukron wa barokallohufik
BalasHapusTerima kasih untuk semua komentarnya ^.^ maaf saya baru aktif lagi di blog karena kesibukan pekerjaan yang lumayan menyita waktu, semoga bisa aktif lagi di blog ^.^
BalasHapusdan semoga kita semua bisa menjadi muslimah yang terbaik, sayapun masih dalam tahap dan proses itu :)
Petunjuk dalam mimpi sama seperti yg aku alami ketika sakit yang saya alami dan setiap bulan berturut2 di opname, lebih dari 3x mimpi seram tapi menjadikan kita berfikir untuk harus berhijab.
BalasHapusKalau boleh, bisakah kak shanty berbagi cerita ttg mimpinya?