Hidup adalah pilihan. Semua orang menyadari itu. Seperti yang kita tahu, setiap orang telah mempunyai jalan hidup dan takdirnya masing-masing, namun aku yakin Allah selalu memberikan kesempatan kepada kita untuk menentukan dan memilih jalan hidup kita, itulah yang sering kita sebut nasib. Hanya takdir yang tidak bisa kita ubah. Allah memberikan kita kebebasan, kesempatan sekaligus cobaan untuk memilih apa yang menjadi keinginan kita dalam menjalani hidup ini. Kesempatan memilih kepada kita untuk hidup di jalan yang baik atau buruk, memilih menjadi orang baik atau jahat, memilih menjalani hidup di jalan-Nya atau tersesat. Itulah pilihan, dan semua itu kita sendirilah yang menentukan.
Setiap keputusan yang kita ambil saat ini akan sangat menentukan hidup kita di masa depan. Jadi jangan pernah terburu-buru dalam mengambil suatu keputusan. Pertimbangkan secara matang dan jangan pernah mengabaikan juga apa yang kata hati bilang. Karena banyak sekali orang yang melakukannya, sehingga hanya penyesalanlah yang akhirnya mereka rasakan.
Salah satu contoh nyata yang ingin aku sampaikan kali ini berhubungan dengan mengambil suatu keputusan dan menentukan pilihan yaitu memiih pasangan hidup. Aku selalu berpikir, pernikahan adalah suatu kehidupan baru yang penuh dengan lika-liku di dalamnya. Banyak kejutan yang terkadang membuat mereka tersenyum bahagia atau mungkin sebaliknya, merasa kecewa. Aku juga terkadang bingung dan heran dengan cerita-cerita mereka yang baru memasuki gerbang pernikahan, ada yang terlihat sangat bahagia, menikmati dan mensyukuri setiap momentnya, tapi ada juga yang di hiasi dengan keluhan-keluhan. Kemudian yang menjadi pertanyaanku adalah sebenarnya apa yang terjadi dengan pernikahan itu sendiri?
Kenyataan ini menjadi suatu tanda tanya untukku, namun cerita-cerita mereka menjadi pengalaman dan pembelajaran yang sangat berharga buatku. Aku memang tidak bisa memberikan pendapat maupun nasehat buat mereka, karena mereka akan berkata padaku “kamu belum mengalaminya sendiri”. Memang aku sendiri belum mengalaminya, namun apakah salah jika aku mempunyai pandangan tersendiri untuk hal ini? Kondisi ini mendorongku untuk lebih banyak mendengar perjalanan hidup mereka-mereka yang telah menikah dan mencari referensi kisah-kisah nyata suatu rumah tangga, karena aku ingin tahu kenapa bisa terjadi kondisi seperti itu?
Hal yang sederhana namun mempunyai dampak yang sangat besar menurutku adalah kesalahan dalam menentukan pilihan dan mengambil keputusan ketika memutuskan memilih seseorang untuk menjadi pasangan seumur hidupnya, kurangnya kesiapan mental atau melanggar komitmen yang sudah di sepakati sebelumnya. Dari beberapa kasus yang aku dengar secara langsung, mereka yang mengeluh setelah menikah adalah ketidakyakinan dan kurangnya kemantapan hati terhadap calon pasangan hidupnya, bahkan yang lebih parahnya lagi, tidak adanya cinta di dalamnya. Penyebab yang kedua itu, biasanya terjadi karena faktor tekanan, keterpaksaan baik itu dari pihak lain maupun keadaan, dan juga rasa pesimis yang di rasakannya.
Terkadang aku merasa prihatin dengan mereka yang harus menikah karena adanya faktor tekanan dari orang tua dan orang-orang di sekitarnya. Suatu keterpaksaan yang mau tidak mau harus mereka lakukan karena ingin berbakti kepada orang tua tapi justru bisa menghancurkan kebahagiaan dan masa depan mereka sendiri. Ada lagi kasus di mana pada akhirnya memutuskan untuk mau menikah dengan orang yang tidak di cintainya atau mungkin hatinya masih merasa ragu di karenakan kondisi. Contohnya saja umurnya sudah tidak muda lagi. Keputusan yang keliru menurutku.
Seperti yang kita tahu, bahwa ketika kita memutuskan menerima pinangan seseorang untuk mau menikah dengannya, kita harus sudah siap dengan segala perubahan yang akan terjadi. Mungkin perubahan perilaku dari pasangan hidup kita atau perubahan pola kehidupan kita. Namun semua itu adalah perjalanan dari sebuah kehidupan baru yang kita sebut dengan pernikahan. Pastinya banyak sekali hal yang akan membuat kita terkejut. Dan sepertinya ada dua hal yang terjadi pada kita, merasa lebih bahagia di bandingkan sebelum menikah atau merasa kecewa dan menyesal karena telah memtuskan menikah dengannya. Itulah yang tadi aku sampaikan, di mana keputusan kita akan menentukan masa depan dan kebahagiaan kita. Walaupun apa yang kita rasakan setelah menikah tidak sesuai dengan harapan dan impian kita, mungkin itulah bentuk kasih sayang Allah kepada kita dengan menjadikan kondisi ini menjadi ladang pahala bagi kita dan mendidik kita untuk menjadi pribadi yang lebih sabar, kuat dan ikhlas.
Satu hal yang ingin aku tegaskan di sini adalah jangan pernah menyalahkan orang lain dengan kondisi ini, karena dirimulah sendiri yang mengambil pilihan ini. Walaupun orang tua memaksamu, kondisi menekanmu, semua kesalahan ada padamu. Kesalahan dalam megambil keputusan. Jangan pernah merasa pesimis kalau Allah tidak akan memberikan jodoh kepada kita. Yakinlah bahwa Allah telah menentukan setiap hamba-Nya berpasang-pasangan. Jangan pernah juga merasa putus asa dari rahmat Allah ketika Dia belum memberikan jodohnya, Jangan sampai kita pada akhirnya memutuskan menikah dengan seseorang yang jelas berbeda keyakinan dengan kita, apalagi mengharuskan kita keluar dari keyakinan kita sendiri. Kita berhak mendapatkan kebahagiaan yang kita inginkan dengan menikahi seseorang yang kita cintai. Karena buatku, orang tua yang bijak adalah mereka yang memberikan kesempatan dan kebebasan kepada anaknya untuk menentukan jalan hidup dan pilihannya sendiri. Apapun yang bisa membuat anaknya bahagia, itulah yang akan mereka lakukan. Meninggalkan rasa egois dalam diri mereka walaupun keinginan dan niat baik mereka adalah semata-mata demi melihat anaknya bahagia.
Sekali lagi, jangan pernah menyalahkan orang lain apabila apa yang kemudian kamu alami ternyata tidak membahagiakanmu. Pilihan dan keputusan ada padamu. Dirimulah sendiri yang menentukan, maka hanya dirimulah juga yang harus menjalaninya.
Dalam mengambil keputusan gunakanlah hati nurani. Boleh mendengarkan apa kata orang lain sebagai bahan pertimbangan, tapi keputusan dan tanggung jawab tetap pada diri sendiri. Ambilah keputusan dan biarkan hati nurani membaca apa yang sebenarnya terjadi.
By. Shanty Wiryahaspati
Tidak ada komentar:
Posting Komentar