Pada dasarnya, umat islam mengetahui bahwa berhijab atau berjilbab itu wajib bagi muslimah. Dulu aku pernah merasa “bersalah” kenapa baru berhijab setelah dewasa, kenapa tidak dari dulu? Tapi semua rasa bersalah itu aku coba ambil secara positif. Aku berpikir tidak ada yang namanya terlambat untuk kebaikan. Aku sangat bersyukur, Allah masih sayang sama aku dan masih mau memberikan hidayah-Nya untukku. Hidayah aku akhirnya berhijab bisa di lihat di artikel yang berjudul “Ketika Hidayah Itu Datang”.
Sampai
detik inipun aku masih terus berusaha dan berusaha memperbaiki diri agar
menjadi muslimah yang lebih baik. Setiap manusia tidak luput dari dosa dan
khilaf. Termasuk masalah hijab itu sendiri. Mungkin saat ini aku belum berhijab
yang benar-benar syar’i jika di bandingkan dengan mereka yang sudah
berpenampilan dengan syar’i sesuai dengan tuntunan islam. Setiap orang butuh
proses untuk berubah, termasuk berhijab. Karena pada dasarnya hijab itu tidak
hanya menutup aurat dan memakai jilbab, tapi membenahi hati dan diri dari
perilaku, perkataan dan pikiran.
Mungkin
banyak orang yang mencemooh dan menggunjingkan mereka-mereka yang berhijab tapi
pakaian dan sikapnya masih tidak sesuai dengan apa yang di perimtahkan oleh
agama. Pakaiannya masih ketat, transparan, masih ada aurat yang terlihat
ataupun gaya hijabnya tidak sesuai secara syar’i, misalnya tidak menutup dada
atau masih terlihat telinga dan leher. Itu fenomena yang masih banyak terjadi
sekarang ini. Semua itu jadi cambukan dan teguran untukku pribadi supaya bisa
berpenampilan lebih baik. Walaupun tetap berusaha untuk bisa berpenampilan
seperti yang seharusnya. Dari segi sikap juga, masih banyak muslimah yang
bersikap kurang baik yang membuat orang lain yang berbeda agama, muslimah yang
belum berhijab maupun berhijab menjadi “protes”. Tidak jarang hal ini di
jadikan “dalih” bagi mereka, terutama yang belum berhijab. Tidak sedikit dari
mereka yang mengatakan, “lebih baik jilbabin hatinya dulu, baru fisiknya
(kepalanya)”, “buat apa berjilbab tapi masih melakukan maksiat?”, “takut susah
cari kerjaan atau jodoh” atau juga “belum siap pakai jilbab”. Itu contoh-contoh
ungkapan mereka yang belum mau memutuskan berjilbab. Hal itu mungkin saja salah
satu penyebabnya adalah kita sendiri, yang berjilbab tapi belum mencerminkan
sikap dan penampilan yang baik dan seharusnya.
Meskipun
banyak orang yang mencemooh seperti itu, tapi aku tetap menghargai
mereka-mereka yang sudah memutuskan berjilbab walaupun masih pakai baju yang
ketat, terlihat leher dan sebagian tangan atau aurat yang lainnya. Walaupun seharusnya tidak seperti itu, tapi
menurutku mereka masih jauh lebih baik di bandingkan yang masih saja berdalih.
Karena buatku akan di butuhkan proses dan waktu bagi setiap orang untuk
berubah. Setidaknya dari mereka (yang masih di nilai tidak baik), sudah ada
niat dan keinginan menutup auratnya walaupun belum sempurna. Aku sendiripun
sepertinya masih berproses untuk terus memperbaiki diri lagi.
Aku
tidak menyalahkan orang yang belum berhijab dan mencemooh mereka yang berjilbab
karena sikap dan penampilannya, karena itu memang masih banyak terjadi. Itu
seharusnya jadi teguran keras buat muslimah yang sudah berhijab. Memang sulit
merubah seseorang, tapi setidaknya lakukan perubahan itu kepada diri kita
sendiri dulu. Kita hanya bisa menyarankan dan mendoakan semoga
muslimah-muslimah berhijab semua bisa memberikan contoh dan pandangan yang baik
untuk orang lain. Hanya saja bagi yang belum berhijab, semoga bisa menjadi
bahan introspeksi diri dan berpikir mereka muslimah yang sudah mau berhijab
walaupun belum sempurna, setidaknya masih lebih baik karena sudah “lebih dulu”
meniatkan dalam dirinya untuk berubah dan menutup auratnya. Kalau menunggu
siap, kapan siapnya? Sedangkan umur kita di dunia ini tidak pernah tahu sampai
kapan. Jangan sampai menyesal ketika sudah di “panggil” Yang Maha Kuasa, karena
azab yang akan terjadi nanti yang aku tahu sangat mengerikan. Tidak sedikit,
muslimah yang berhijab akhirnya memutuskan menutup auratnya di karenakan ada
pengalaman rohani yang terjadi dalam hidupnya yang membuatnya menyadari kalau
muslimah itu wajib berhijab dan takut tidak sempat berhijab ketika meninggal
nanti.
Untuk
masalah fenomena yang terjadi, ketika muslimah berhijab menunjukkan sikap dan
penampilan yang tidak baik, jangan pernah salahkan jilbabnya, tapi salahkan
pribadinya. Jilbab tidak pernah salah karena aturan dalam islam sudah jelas,
hanya saja kita sendiri yang masih belum bisa “sempurna” dalam berhijab. Pribadi
masing-masing yang menunjukkan seperti itu. Jadi aku sangat berharap dan
menghimbau kepada semua, jangan pernah menyama-ratakan mereka yang berhijab,
jangan pernah menyalahkan jilbab yang di pakainya, tapi salahkan pribadinya
(orangnya). Lebih bijaklah dalam menilai dan memandang sesuatu, jangan mudah
menghakimi sesuatu, lebih baik kita introspeksi diri dulu sebelum menghamiki
orang lain, apakah kita sudah lebih baik dari mereka?
By. Shanty
Wiryahaspati
Tidak ada komentar:
Posting Komentar