Selasa, 14 Mei 2013

Jangan Salahkan Jilbabnya







Pada dasarnya, umat islam  mengetahui bahwa berhijab atau berjilbab itu wajib bagi muslimah. Dulu aku pernah merasa “bersalah” kenapa baru berhijab setelah dewasa, kenapa tidak dari dulu? Tapi semua rasa bersalah itu aku coba ambil secara positif. Aku berpikir tidak ada yang namanya terlambat untuk kebaikan. Aku sangat bersyukur, Allah masih sayang sama aku dan masih mau memberikan hidayah-Nya untukku. Hidayah aku akhirnya berhijab bisa di lihat di artikel yang berjudul “Ketika Hidayah Itu Datang”.

Sampai detik inipun aku masih terus berusaha dan berusaha memperbaiki diri agar menjadi muslimah yang lebih baik. Setiap manusia tidak luput dari dosa dan khilaf. Termasuk masalah hijab itu sendiri. Mungkin saat ini aku belum berhijab yang benar-benar syar’i jika di bandingkan dengan mereka yang sudah berpenampilan dengan syar’i sesuai dengan tuntunan islam. Setiap orang butuh proses untuk berubah, termasuk berhijab. Karena pada dasarnya hijab itu tidak hanya menutup aurat dan memakai jilbab, tapi membenahi hati dan diri dari perilaku, perkataan dan pikiran.

Mungkin banyak orang yang mencemooh dan menggunjingkan mereka-mereka yang berhijab tapi pakaian dan sikapnya masih tidak sesuai dengan apa yang di perimtahkan oleh agama. Pakaiannya masih ketat, transparan, masih ada aurat yang terlihat ataupun gaya hijabnya tidak sesuai secara syar’i, misalnya tidak menutup dada atau masih terlihat telinga dan leher. Itu fenomena yang masih banyak terjadi sekarang ini. Semua itu jadi cambukan dan teguran untukku pribadi supaya bisa berpenampilan lebih baik. Walaupun tetap berusaha untuk bisa berpenampilan seperti yang seharusnya. Dari segi sikap juga, masih banyak muslimah yang bersikap kurang baik yang membuat orang lain yang berbeda agama, muslimah yang belum berhijab maupun berhijab menjadi “protes”. Tidak jarang hal ini di jadikan “dalih” bagi mereka, terutama yang belum berhijab. Tidak sedikit dari mereka yang mengatakan, “lebih baik jilbabin hatinya dulu, baru fisiknya (kepalanya)”, “buat apa berjilbab tapi masih melakukan maksiat?”, “takut susah cari kerjaan atau jodoh” atau juga “belum siap pakai jilbab”. Itu contoh-contoh ungkapan mereka yang belum mau memutuskan berjilbab. Hal itu mungkin saja salah satu penyebabnya adalah kita sendiri, yang berjilbab tapi belum mencerminkan sikap dan penampilan yang baik dan seharusnya. 

Meskipun banyak orang yang mencemooh seperti itu, tapi aku tetap menghargai mereka-mereka yang sudah memutuskan berjilbab walaupun masih pakai baju yang ketat, terlihat leher dan sebagian tangan atau aurat yang lainnya.  Walaupun seharusnya tidak seperti itu, tapi menurutku mereka masih jauh lebih baik di bandingkan yang masih saja berdalih. Karena buatku akan di butuhkan proses dan waktu bagi setiap orang untuk berubah. Setidaknya dari mereka (yang masih di nilai tidak baik), sudah ada niat dan keinginan menutup auratnya walaupun belum sempurna. Aku sendiripun sepertinya masih berproses untuk terus memperbaiki diri lagi. 

Aku tidak menyalahkan orang yang belum berhijab dan mencemooh mereka yang berjilbab karena sikap dan penampilannya, karena itu memang masih banyak terjadi. Itu seharusnya jadi teguran keras buat muslimah yang sudah berhijab. Memang sulit merubah seseorang, tapi setidaknya lakukan perubahan itu kepada diri kita sendiri dulu. Kita hanya bisa menyarankan dan mendoakan semoga muslimah-muslimah berhijab semua bisa memberikan contoh dan pandangan yang baik untuk orang lain. Hanya saja bagi yang belum berhijab, semoga bisa menjadi bahan introspeksi diri dan berpikir mereka muslimah yang sudah mau berhijab walaupun belum sempurna, setidaknya masih lebih baik karena sudah “lebih dulu” meniatkan dalam dirinya untuk berubah dan menutup auratnya. Kalau menunggu siap, kapan siapnya? Sedangkan umur kita di dunia ini tidak pernah tahu sampai kapan. Jangan sampai menyesal ketika sudah di “panggil” Yang Maha Kuasa, karena azab yang akan terjadi nanti yang aku tahu sangat mengerikan. Tidak sedikit, muslimah yang berhijab akhirnya memutuskan menutup auratnya di karenakan ada pengalaman rohani yang terjadi dalam hidupnya yang membuatnya menyadari kalau muslimah itu wajib berhijab dan takut tidak sempat berhijab ketika meninggal nanti.

Untuk masalah fenomena yang terjadi, ketika muslimah berhijab menunjukkan sikap dan penampilan yang tidak baik, jangan pernah salahkan jilbabnya, tapi salahkan pribadinya. Jilbab tidak pernah salah karena aturan dalam islam sudah jelas, hanya saja kita sendiri yang masih belum bisa “sempurna” dalam berhijab. Pribadi masing-masing yang menunjukkan seperti itu. Jadi aku sangat berharap dan menghimbau kepada semua, jangan pernah menyama-ratakan mereka yang berhijab, jangan pernah menyalahkan jilbab yang di pakainya, tapi salahkan pribadinya (orangnya). Lebih bijaklah dalam menilai dan memandang sesuatu, jangan mudah menghakimi sesuatu, lebih baik kita introspeksi diri dulu sebelum menghamiki orang lain, apakah kita sudah lebih baik dari mereka?

By. Shanty Wiryahaspati

Tidak ada komentar:

Posting Komentar