Minggu, 11 Desember 2011

Cinta, Hati atau Logika?

Apakah kalian tahu apa arti cinta itu? Aku sendiri terkadang masih bingung dengan makna yang sebenarnya dari cinta. Banyak sekali penjelasan dan penjabaran yang bisa mendeskipsikan arti sebuah cinta. Buatku, cinta itu ketulusan, kebesaran hati dan anugerah terindah yang Allah berikan kepada kita. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana kita menjalani kehidupan ini tanpa ada rasa cinta di dalamnya, pastinya akan terasa sangat hampa. Sepertinya pembahasan tentang cinta tidak akan pernah ada habisnya. Cinta itu unik, begitulah yang sering aku dengar dan aku lihat dalam kehidupanku sehar-hari. Kenapa begitu? Karena cinta bisa datang menghampiri seseorang ketika dia tidak sedang menginginkannya sama sekali, bahkan seolah pergi menjauh di saat seseorang sangat mengharapkannya. Benar-benar aneh! Cinta bisa merasuki hati seseorang dalam hitungan waktu yang mungkin terbilang singkat, begitu pula ketika cinta itu hilang dengan tiba-tiba, entah karena rasa jenuh yang terlalu atau perasaan terluka yang teramat dalam. Ya, ketika hati kita merasa terluka, cinta dalam diri ini terkadang bisa lenyap begitu saja. Tapi apakah itu bisa di namakan cinta? Datang dan pergi begitu saja, seperti angin lalu. Aku merasa makna sebuah cinta lebih dalam dari itu, malah aku merasa cinta itu sesuatu yang tidak bisa di ungkapkan dengan kata-kata dan hanya bisa di rasakan.

Mungkin kita tidak pernah menyadari kekuatan cinta yang sebenarnya. Cinta bisa memberikan harapan, mengembalikan rasa percaya, mengembalikan rasa ingin mencintai dan di cintai dan memberikan keberanian dan keyakinan akan menemukan kebahagiaan yang sesungguhnya kepada mereka yang pernah di sakiti, terluka, kecewa bahkan di khianati. 

Salah satu pengalaman yang pernah aku alami, ketika aku menjadi pendengar yang baik untuk teman priaku. Saat mereka curhat kepadaku, aku selalu berusaha bersikap netral dengan pendapat-pendapatku. Namun tanpa aku sadari, kesediaanku mendengarkan curhatan mereka dan selalu memberikan pendapatku, di nilai sebagai bentuk perhatianku. Inilah yang gawat, karena yang terjadi justru kesalahpahaman. Aku sering sekali bingung di buatnya. Mereka sudah salah paham dengan kepedulianku. Tapi ini menjadi pelajaran yang berharga buatku.

Cinta memang lebih dominan di kuasai oleh perasaan, tapi kita juga harus membiarkan logika ikut berperan di dalamnya. Aku tahu itu terasa sangat sulit, karena terkadang rasa dihati mengalahkan logika yang ada. Buatku selama masih dalam batas yang wajar, rasanya sah-sah saja, Tapi kalau sudah ada unsur menyakiti atau ada yang tersakiti, itulah yang tidak wajar. Yang aku maksud, di saat kita mencintai seseorang yang sudah mempunyai pasangan (pacar), apalagi yang sudah mempunyai suami atau istri. Kondisi yang kedua itu yang menurutku sangat parah. Intinya mencintai seseorang yang sudah mempunyai komitmen dengan orang lain. Di sinilah logika harus di mainkan, karena buatku di saat kita mencintai seseorang atau bisa di bilang secara tidak langsung mengganggu hubungan orang lain, rasanya itu tidak bisa di bilang kemurnian sebuah cinta, tapi nafsu.  Cinta selalu memberi untuk kebaikan orang lain, sedangkan nafsu selalu mengambil untuk memuaskan diri sendiri.

Ketika kalian berada di posisi itu (mencintai seseorang yang sudah punya komitmen), cobalah untuk memposisikan sebagai korban, yaitu posisi orang yang pasangannya di cintai atau di rebut orang lain. Bagaimana kalau kalian mengalaminya? Bisakah kalian merasakan perasaan sakit itu? Kalau tidak, berarti sudah jelas nafsu yang menguasai kalian, karena benar-benar tidak ada logika di dalamnya. Kalian adalah orang yang egois karena hanya mementingkan perasaan sendiri tanpa merasakan bagaimana sakit hatinya mereka. Pernahkah kalian berpikir, kalau kalian mencintai atau merebut pasangan orang lain atau parahnya lagi sampai selingkuh, dia bisa saja melakukan hal yang sama terhadap kalian, di selingkuhi lagi. Sekali melakukan bukan berarti dia tidak akan melakukannya lagi, benar tidak? Pikirkan lagi! Satu hal yang harus kita ingat dan sering di abaikan orang lain, bahwa perselingkuhan itu terjadi karena adanya andil dua orang. Kalau saja salah satu pihak tidak menerima atau mempunyai minat yang sama untuk berselingkuh, tidak akan bisa terjadi. Kita tidak bisa menghakimi salah satu pihak dalam hal ini, karena ini jelas kesalahan berdua.

Begitu juga dengan persahabatan. Cinta adalah sebuah persahabatan yang telah terbakar. Cinta bisa tumbuh dalam suatu hubungan persahabatan, karena intensitas bertemu, berbagi, saling memahami dan mengerti yang sangat memungkinkan cinta itu muncul di dalamnya. Namun sayangnya, seperti yang kita tahu, persahabatan bisa berakhir dengan percintaan, tapi percintaan sulit berakhir dengan persahabatan. Buatku sebenarnya, semua itu kembali kepada masing-masing pihak, tergantung dari kedewasaan dan sikap bijak keduanya.

Memang berat kalau sudah mencintai seseorang, namun di saat kita memutuskan untuk mencintai seseorang dengan segala kekurangannya, itu adalah pilihan. Bahkan ketika kita menyadari bahwa masih banyak orang lain yang lebih dari orang yang kita sayangi dan tetap memilih untuk mencintainya, itulah pilihan. Kita tahu tidak ada orang yang sempurna, karenanya kita bukan mencari seseorang yang sempurna untuk di cintai, tetapi untuk mencintai orang yang tidak sempurna dengan cara yang sempurna. Peliharalah cinta yang ada, karena seperti orang bilang, cinta itu ibarat sebuah tanaman yang akan mati jika tidak di pupuk.

Tuhan memberikan kita dua kaki untuk berjalan, dua tangan untuk memegang, dua telinga untuk mendengar dan dua mata untuk melihat. Tetapi mengapa Tuhan hanya menganugerahkan sekeping hati pada kita? Karena Tuhan telah memberikan sekeping hati lagi pada seseorang untuk kita mencarinya. Itulah Cinta…
By. Shanty Wiryahaspati
*Referensi : Perhaps You-Stefhanie Zen; Chicken Soup For The Single’s Soul; Kata Bijak Berbagai sumber


Tidak ada komentar:

Posting Komentar