Setiap orang pasti punya yang namanya idola. Terkadang ada sebagian dari mereka yang hanya sekedar mengagumi, ada yang ingin menjadi seperti mereka karena kesuksesan, kecantikan maupun prestasinya, namun tidak sedikit juga yang meniru dan benar-benar seperti idolanya, Rasanya sah-sah saja apabila sosok yang menjadi panutan dan inspirasinya itu menjadi motivasi untuk dirinya menjadi seseorang yang lebih baik ataupun lebih sukses. Selama hal yang di tirunya adalah hal-hal yang positif dan baik.
Aku terinspirasi dari sebuah cerita novel yang pernah aku baca, di mana seseorang seolah menginginkan menjadi seperti orang yang di hormati dan di kaguminya. Melakukan sesuatu yang awalnya merupakan hobi yang di sukainya namun menjadi sebuah tekanan dan kewajiban. Mengekor menjadi seseorang seperti orang tuanya. Benar-benar menginspirasi.
Kalau aku coba merefleksikannya dalam kehidupan sehari-hari yang mungkin banyak terjadi di lingkungan kita, sepertinya memang benar-benar sering terjadi tanpa orang itu menyadarinya kalau apa yang di lakukannya adalah hanya mengejar cahaya. Aku berpikir wajar rasanya apabila seorang anak ingin seperti orang tuanya yang sukses, apapun bidang yang di gelutinya. Namun kadang mereka tidak menyadari bahwa tidak semua orang tua menginginkan anaknya menjadi seperti dirinya. Misalkan seorang penyanyi yang menginginkan anaknya menjadi penyanyi juga. Ada juga sebuah contoh, di mana sang ayah adalah seorang pelatih renang yang sukses, kemudian dia menjadikan sang anak di persiapkan untuk menjadi seorang atlet renang, padahal apa yang di perintahkannya itu, bukanlah hal yang ingin di lakukan sang anak. Dia mempunyai kemampuan dan cita-cita yang berbeda. Tapi apa yang terjadi, ketika keinginan ayahnya menjadikan sang anak menjadi tertekan. Kasus terakhir yang aku dapat dari cerita novel tadi adalah ketika orang tua berharap sang adik bisa sepintar, sehebat sang kakak.
Hal yang ingin aku sampaikan berdasarkan uraian cerita itu adalah bagi para orang tua, jangan pernah memaksakan kehendak, keinginan dan cita-cita pribadi, di bebankan pada sang anak. Biarkanlah mereka mempunyai dan melakukan sesuatu yang di sukainya, yang memang menjadi cita-cita dan impiannya, karena mungkin memang di situlah kelebihan dan bakat yang di milikinya. Dan untuk teman-teman yang adalah seorang anak, janganlah ingin menjadi orang lain, be yourself…..lakukanlah apa yang menjadi keinginan, cita-cita dan impianmu. Kalian tidaklah sama dengan apa yang menjadi sosok bayangan kalian. Kalian mempunyai kemampuan, kelebihan dan bakat yang berbeda dengan mereka. Mungkin bukan disitulah kelebihan dan bakat kalian, tapi aku yakin ada kelebihan lain yang tanpa kalian sadari adalah merupakan kelebihan yang sebenarnya. Cobalah untuk lebih mengasah kemampuan pribadi, sampai pada akhirnya nanti kalian akan menemukannya. Aku yakin kelebihan yang kalian temukan itu akan menjadikan kalian seseorang yang sukses dan menjadi kebanggaan orang tua kalian jika kalian melakukannya dengan sungguh-sungguh, namun tetap di jalan yang baik, tidak dengan cara yang instan. Jika suatu hari sahabatmu mengatakan apa yang di lihatnya adalah sebuah kelebihan yang kau miliki, dengarkanlah karena kelebihan seseorang itu letaknya di belakang, kita tidak bisa melihatnya sendiri. Kita butuh seseorang melihatnya untuk kita, karena terkadang orang lain memang selalu lebih tahu tentang kita daripada kita sendiri [Morning Light]
Satu hal lagi, bicaralah baik-baik kepada orang tuamu apa yang sebenarnya ingin kalian lakukan, apa yang sebenarnya kalian sukai, dan apa yang menjadi cita-cita dan impian yang ingin kalian raih. Hanya dengan berbicara dari hati ke hati, masalah dan keslahpahaman bisa terselesaikan. Mungkin saja itu hanya perasaanmu saja yang membuat kalian merasa terbebani, karena tidak mustahil apabila orang tua sebenarnya tidak menginginkan atau memaksamu menjadi seperti yang kalian pikirkan.
So, Just Be Yourself [For a Good Thing]
By. Shanty Wiryahaspati
Tidak ada komentar:
Posting Komentar