Pada awalnya akupun mengalami hal yang sama, termasuk orang
yang sangat tidak enakan terhadap orang lain, tidak bisa menolak tawaran teman
tapi masih dalam koridor yang positif, misalnya mengajak jalan padahal
sebenarnya sedang tidak ingin. Intinya melakukan sesuatu atas permintaan
seseorang padahal sebenarnya aku sedang tidak ingin melakukannya. Perlu di
garis bawahi, ini masih dalam hal
yang baik.
Suatu hari aku sharing dengan seorang teman, dia adalah kakak
angkatan ketika aku kuliah dulu. Aku bercerita tentang masalah ini, kemudian
dia menasehatiku kalau aku harus bisa belajar bilang Tidak, harus bisa menolak
sesuatu yang memang tidak ingin aku lakukan. Dia mengatakan kalau aku terus
bersikap seperti itu, akan merugikan diri sendiri, karena adanya perasaan
terpaksa. Perasaan tidak enak yang aku rasakan, memang aku akui terkadang merugikanku.
Tapi setelah berbicara dengan temanku itu, aku bertekad pelan-pelan harus mulai
bisa bersikap tegas dengan berani berkata tidak. Awalnya memang terasa sangat
sulit, namun karena membiasakan dan mengharuskan
untuk bisa menolak, Alhamdulillah akhirnya aku bisa melakukannya. Ketika ada
seseorang yang mengajak untuk pergi ke suatu tempat atau melakukan sesuatu yang
sedang tidak ingin aku lakukan atau memang tidak aku sukai, aku bisa
menolaknya. Kalian tahu bagaimana rasanya…..lega. Memang pastinya ada sedikit
perasaan tidak enak, tapi kadarnya kecil, tidak sebesar ketika aku belum bisa
menolak.
Sebenarnya banyak contoh tidak bisa bersikap tegas atau tidak
bisa menolak. Aku akan coba menguraikan beberapa contoh kejadian yang sering
aku dengar dan aku lihat di kehidupan sehari-hari. Contoh yang pertama,
seorang anak yang di atur
kehidupannya oleh orang tuanya, di paksa untuk mengikuti apa yang menjadi
impian dan keinginan mereka, misalkan dalam hal pendidikan, minat maupun
pasangan. Padahal sebenarnya, sang anak sudah mempunyai keinginan, cita-cita
dan impiannya sendiri untuk hidupnya. Kebanyakan semua itu mereka lakukan
sebagai bentuk berbakti atau menghormati orang tua, walaupun mereka sangat
menyadari bahwa semua itu sangat merugikan dan menyakitinya. Seolah-olah orang
tuanya telah merenggut kebebasan dan
kebahagiaan dalam menjalani kehidupan seperti yang di inginkannya. Dan yang aku
tahu, kondisi ini pada akhirnya akan merusak mental dan masa depan bagi sang
anak. Bagi para orang tua, apakah kalian akan tetap bersikap egois,
menghancurkan masa depan dan kebahagiaan anak-anak kalian, dengan memaksa
melakukan apa yang menurut kalian itu yang terbaik untuk mereka?
Contoh
yang kedua, ada hubungannya dengan kisah percintaan. Di mana
ketika seseorang menerima cinta orang yang tidak kalian cintai. Dia tidak
menyadari bahwa apa yang di lakukannya akan merugikan dirinya sendiri,
sekaligus menyakiti perasaan orang lain. Jika kalian memang tidak menyukainya,
mengapa kalian menerimanya? Penolakan memang tetap akan menyakiti perasaannya,
namun kebohongan yang kalian lakukan justru akan lebih menyakitinya. Janganlah
bersikap egois yang hanya mementingkan kepentingan pribadi. Memang aku sering
mendengar, seseorang yang terpaksa menerima cinta orang lain karena benar-benar
terpaksa misalkan karena di jodohkan orang tuanya. Itu memang kondisi yang
sangat menyudutkan, namun tetap saja seorang anak masih punya hak untuk menolak
atau berkata tidak, karena hidup adalah pilihan.
Contoh
yang ketiga, erat hubungannya dengan sikap toleransi dan
solidaritas dalam persahabatan. Persahabatan dan juga sahabat yang baik, yaitu
yang bisa saling memberikan pengaruh yang baik satu sama lain dan saling
mengingatkan akan kebaikan. Sedekat apapun kita dengan sahabat, kita tetap
harus bisa membedakan mana yang baik dan mana yang tidak baik. Hanya karena
dasar solidaritas, lantas kita ikut dan mau melakukan hal yang sama dengan
sahabat kita, padahal apa yang kita lakukan itu sudah melewati batas. Untuk
sesuatu yang negatif, kita harus berani menolak dan berkata tidak. Perlu di
ingat sekali lagi, sahabat yang baik adalah yang memberi pengaruh yang baik.
Apabila sahabatmu memusuhi dan menjauhi karena permintaan dan ajakannya yang
tidak baik kalian tolak, itu membuktikan kalau dia bukanlah sahabat yang baik
untukmu. Tidak usah merasa tidak enak atau kecewa, karena sahabat terbaikmu
justru adalah mereka yang akan selalu mengingatkanmu ketika kalian melakukan
kesalahan.
Contoh terakhir yang ingin aku sampaikan adalah sikap tegas
dan menolak untuk berkata tidak ketika seseorang berusaha memberikan uang titipan. Hal ini sepertinya sudah
menjadi hal biasa di negara ini. Terbukti dari semakin banyaknya orang-orang
yang harus berhadapan dengan KPK untuk mempertanggung jawabkan perbuatannya.
Semakin terungkapnya orang-orang
terpercaya yang terlibat. Negara kita tidak akan pernah bisa sejahtera
rakyatnya apabila di dalamnya (masyarakat) masih belum bisa bersikap tegas dan
menolak uang panas. Jangan pernah mau
melakukan itu, karena uang haram tidak akan pernah memberikan keberkahan bagi
kehidupan kita. Bersikaplah tegas!
Pada intinya, sikap tegas atau menolak untuk berkata tidak
pada seseorang atau sesuatu, tidak harus dengan sikap ekstrim ataupun kata-kata
yang kasar dan menyakitkan. Semua tergantung pada cara penyampaiannya.
Penyampaian yang baik ketika menolak, setidaknya akan lebih bisa di pahami dan
di mengerti oleh orang yang kita tolak permintaannya. Apabila penyampaian kita
suda tepat, dengan kata-kata dan sikap yang baik, tapi dia malah bereaksi
negatif, itu menunjukkan bahwa dia belum cukup bijaksana, dewasa dan berbesar
hati menerima penolakan.
Jadi buat teman-teman, marilah kita mulai dari sekarang untuk
membiasakan diri untuk berkata tidak pada sesuatu yang memang tidak ingin kita
lakukan, tidak kita sukai dan untuk hal-hal yang negatif yang akan merugikan
diri kita. Ketegasan seseorang dalam menghadapi sesuatu bisa mencerminkan
seberapa kuat orang tersebut memegang prinsip dalam hidupnya, tahu mengapa?
Karena dia bisa memutuskan apa yang di inginkan dan yangterbaik untuk hidupnya.
So, keep trying ok!
By.
Shanty Wiryahaspati
Tidak ada komentar:
Posting Komentar