Minggu, 06 Mei 2012

Hentikan Kekerasan Pada Anak!


Kalau kita sering melihat berita-berita di televisi atau Koran, rasanya sering sekali kita mendengar anak-anak yang di perlakukan tidak semestinya, jangankan oleh orang lain, kejadian ini bahkan sering di lakukan oleh orang tua kandungnya sendiri. Miris sekali mendengarnya. Perlakuan yang tidak baik itu kebanyakan berupa eksploitasi maupun kekerasan, baik secara psikis dan fisik. Terkadang banyak di antara mereka, orang tua yang melakukan kekerasan itu berdalih dengan mengatakan bahwa apa yang di lakukannya adalah untuk mengajarkan kedisiplinan. Padahal kedisiplinan yang sebenarnya, tidak harus melakukan tindakan dan ucapan yang kasar.

Jika anak melakukan kesalahan, terkadang orang tua memberikan hukuman agar sang anak tidak mengulangi lagi kesalahannya. Tapi, tetap memberikan hukuman yang tidak menggunakan fisik dan ucapan yang tidak baik. Orang tua seharusnya menyadari, bahwa mereka berdua terutama ibu, merupakan sekolah pertama bagi anak-anak mereka, tempat pertama bagi mereka mempelajari dan mengikuti apa yang biasa di lakukan orang-orang di lingkungannya, terutama keluarganya. Jadi, jangan pernah menyalahkan apa yang di lakukan oleh sang anak ketika mereka melakukan kesalahan. Meskipun apa yang di lakukannya tidak pernah orang tua ajarkan, namun hal itu tetap menjadi kesalahan orang tua dalam mendidiknya. Yang aku tahu, cara yang baik dalam mendisiplinkan anak adalah dengan memberikan reward ketika mereka melakukan hal yang baik, seperti munuruti apa yang orang tua bilang, dan memberikan hukuman apabila mereka melakukan kesalahan, namun tidak dengan menyiksa mereka secara fisik dan psikis. Kenyataan yang banyak terjadi, kekerasan tidak hanya di lakukan oleh orang tuanya sendiri, karena tidak sedikit seorang guru yang seharusnya membimbing mereka, justru melakukan perbuatan yang tercela itu. Benar-benar memprihatinkan.

Kita terkadang mempunyai pemahaman, yang namanya kekerasan pada anak selalu di identikkan dengan pemukulan atau penyiksaan. Namun yang sebenarnya, sesuatu bisa di katakan kekerasan apabila sang anak mengalami depresi, ketakutan yang tidak normal, agresif di karenakan perlakuan orang-orang di sekitarnya. Sikap merendahkan, meremehkan dan mengintimidasi anak, bisa juga di katakan kekerasan, tepatnya kekerasan secara psikis. Walaupun kekerasan ini tidak meninggalkan bekas luka secara fisik, namun sebenarnya perlakuan ini justru akan memberikan dampak yang lebih berat bagi sang anak, karena akan tersimpan dalam memorinya, yang terkadang masih terus tersimpan hingga mereka dewasa nanti.


Hal yang sangat membuat aku prihatin adalah anak-anak ini ada untuk di lindungi, di sayangi dan di jamin kesejahteraan dan perkembangan jiwanya, namun kenyataannya mereka justru harus mengalami kejadian yang sangat menyakitinya. Aku pernah membaca sebuah buku yang menjelaskan bahwa perilaku menyimpang seseorang ketika dewasa, faktor terbesarnya adalah trauma di masa kecilnya. Ketika masih kecil, mereka mendapatkan perlakuan yang tidak baik dan tidak mendidik dari lingkungan sekitarnya, entah itu keluarga, sekolah maupun lingkungan di mana ia tinggal. Kejadian ini bisa terjadi dari hal-hal sederhana, seperti selalu di pojokkan oleh orang tuanya maupun di ejek atau di hina teman-teman di sekolahnya. Tanpa orang tua menyadari, bahwa apa yang di lakukannya itu, akan berdampak buruk bagi perkembangan jiwa sang anak, dengan kata lain perlakuannya bisa memicu sang anak tumbuh menjadi pribadi yang tidak baik dan cenderung melakukan penyimpangan.

Sebenarnya apabila kita telaah lebih jauh, kita akan bertanya-tanya, apa yang menyebabkan orang dewasa bisa dengan tega melakukan kekerasan kepada anak yang tidak berdaya itu? Kalau kita lihat dari beberapa kasus yang pernah terjadi, kekerasan itu di latar belakangi faktor ekonomi, stress dan trauma di masa kecil. Melihat kenyataan yang ada, rasanya faktor ekonomi memang sangat besar perannya dalam tindakan kekerasan ini. Faktor ekonomi akan sangat bisa memicu orang tua mengalami stress, belum lagi di tambah stress di karenakan sikap anak yang sangat polos dan tidak mengeri apa-apa, sulitnya mendapatkan pekerjaan atau mungkin kehilangan pekerjaan. Selain itu bisa juga terjadi di karenakan tingkah laku pasangan yang menambah kondisi yang ada semakin rumit. Faktor lain, kenapa bisa terjadinya kekerasan pada anak adalah karena trauma masa kecil orang tua tersebut. Mereka mungkin mengalami hal yang sama, entah itu kekerasan fisik maupun perlakuan yang menyangkut psikis. Hal ini sangat erat kaitannya, di karenakan trauma mendalam yang di alami mereka sehingga berdampak kepada keluarganya sendiri. Sebenarnya inti penyebab utama dari masalah kekerasan ini adalah lemahnya keimanan seseorang. That’s all.

Fenomena ini pastinya akan memberikan dampak buruk bagi sang anak. Mereka akan tumbuh menjadi pribadi yang tidak normal, seperti cenderung melakukan perbuatan menyimpang, mempunyai rasa dendam, bersikap kasar kepada orang laian atau mungkin justru cenderung menarik diri dari lingkungannya di karenakan rasa rendah diri, tidak berguna, aib bagi keluarga sampai hal yang ekstrim seperti penyalahgunaan obat dan alkohol atau depresi berat yang bisa menyebabkan gangguan jiwa.  Menurutku, hal terpenting yang harus ada pada diri orang tua sebagai orang dewasa yang paling dekat dengan merekaa adalah memiliki keimanan dan ilmu agama yang baik, sehingga bisa mengajarkan dan memberi contoh yang baik juga untuk anak-anak mereka. Satu lagi, kesadaran mereka para orang tua, bahwa anak adalah anugerah, titipan dan amanah dari Allah yang harus di jaga, di lindungi dan di perlakukan sebaik-baiknya, karena mereka akan di minta pertanggungjawabannya kelak.

Bagi para orang tua, apakah kalian akan merusak anak-anak kalian sendiri? Darah daging sendiri? Mereka ada dan tercipta karena buah cinta kedua orang tuanya. Perhatikan lingkungan pergaulan dan teman-teman sang anak, karena lingkungan juga mempunyai pengaruh yang sangat besar terhadap sikap sang anak. Jangan pernah menyia-nyiakan mereka, perlakukan dengan sebaik-baiknya, karena tanpa kalian sadari, pribadi seseorang bisa terlihat dari anak-anaknya sendiri. Bagimana anak-anak bersikap dan berperilaku, itu tidak akan jauh dari perlakuan dan didikan orang tuanya. Jika anak kalian berbuat kesalahan, itu bukan salah mereka sepenuhnya, tapi itu sudah jelas salah kalian, para orang tua.

By. Shanty Wiryahaspati

Tidak ada komentar:

Posting Komentar