Kalau
kita sering melihat berita-berita di televisi atau Koran, rasanya sering sekali
kita mendengar anak-anak yang di perlakukan tidak semestinya, jangankan oleh
orang lain, kejadian ini bahkan sering di lakukan oleh orang tua kandungnya
sendiri. Miris sekali mendengarnya. Perlakuan yang tidak baik itu kebanyakan
berupa eksploitasi maupun kekerasan, baik secara psikis dan fisik. Terkadang
banyak di antara mereka, orang tua yang melakukan kekerasan itu berdalih dengan
mengatakan bahwa apa yang di lakukannya adalah untuk mengajarkan kedisiplinan.
Padahal kedisiplinan yang sebenarnya, tidak harus melakukan tindakan dan ucapan
yang kasar.
Jika
anak melakukan kesalahan, terkadang orang tua memberikan hukuman agar sang anak
tidak mengulangi lagi kesalahannya. Tapi, tetap memberikan hukuman yang tidak
menggunakan fisik dan ucapan yang tidak baik. Orang tua seharusnya menyadari,
bahwa mereka berdua terutama ibu, merupakan sekolah pertama bagi anak-anak
mereka, tempat pertama bagi mereka mempelajari dan mengikuti apa yang biasa di
lakukan orang-orang di lingkungannya, terutama keluarganya. Jadi, jangan pernah
menyalahkan apa yang di lakukan oleh sang anak ketika mereka melakukan
kesalahan. Meskipun apa yang di lakukannya tidak pernah orang tua ajarkan,
namun hal itu tetap menjadi kesalahan orang tua dalam mendidiknya. Yang aku
tahu, cara yang baik dalam mendisiplinkan anak adalah dengan memberikan reward
ketika mereka melakukan hal yang baik, seperti munuruti apa yang orang tua
bilang, dan memberikan hukuman apabila mereka melakukan kesalahan, namun tidak
dengan menyiksa mereka secara fisik dan psikis. Kenyataan yang banyak terjadi,
kekerasan tidak hanya di lakukan oleh orang tuanya sendiri, karena tidak
sedikit seorang guru yang seharusnya membimbing mereka, justru melakukan
perbuatan yang tercela itu. Benar-benar memprihatinkan.
Kita
terkadang mempunyai pemahaman, yang namanya kekerasan pada anak selalu di identikkan
dengan pemukulan atau penyiksaan. Namun yang sebenarnya, sesuatu bisa di
katakan kekerasan apabila sang anak mengalami depresi, ketakutan yang tidak
normal, agresif di karenakan perlakuan orang-orang di sekitarnya. Sikap
merendahkan, meremehkan dan mengintimidasi anak, bisa juga di katakan
kekerasan, tepatnya kekerasan secara psikis. Walaupun kekerasan ini tidak
meninggalkan bekas luka secara fisik, namun sebenarnya perlakuan ini justru
akan memberikan dampak yang lebih berat bagi sang anak, karena akan tersimpan
dalam memorinya, yang terkadang masih terus tersimpan hingga mereka dewasa
nanti.
Hal
yang sangat membuat aku prihatin adalah anak-anak ini ada untuk di lindungi, di
sayangi dan di jamin kesejahteraan dan perkembangan jiwanya, namun kenyataannya
mereka justru harus mengalami kejadian yang sangat menyakitinya. Aku pernah
membaca sebuah buku yang menjelaskan bahwa perilaku menyimpang seseorang ketika
dewasa, faktor terbesarnya adalah trauma di masa kecilnya. Ketika masih kecil,
mereka mendapatkan perlakuan yang tidak baik dan tidak mendidik dari lingkungan
sekitarnya, entah itu keluarga, sekolah maupun lingkungan di mana ia tinggal. Kejadian
ini bisa terjadi dari hal-hal sederhana, seperti selalu di pojokkan oleh orang
tuanya maupun di ejek atau di hina teman-teman di sekolahnya. Tanpa orang tua
menyadari, bahwa apa yang di lakukannya itu, akan berdampak buruk bagi
perkembangan jiwa sang anak, dengan kata lain perlakuannya bisa memicu sang
anak tumbuh menjadi pribadi yang tidak baik dan cenderung melakukan
penyimpangan.
Sebenarnya
apabila kita telaah lebih jauh, kita akan bertanya-tanya, apa yang menyebabkan
orang dewasa bisa dengan tega melakukan kekerasan kepada anak yang tidak
berdaya itu? Kalau kita lihat dari beberapa kasus yang pernah terjadi,
kekerasan itu di latar belakangi faktor ekonomi, stress dan trauma di masa
kecil. Melihat kenyataan yang ada, rasanya faktor ekonomi memang sangat besar
perannya dalam tindakan kekerasan ini. Faktor ekonomi akan sangat bisa memicu
orang tua mengalami stress, belum lagi di tambah stress di karenakan sikap anak
yang sangat polos dan tidak mengeri apa-apa, sulitnya mendapatkan pekerjaan
atau mungkin kehilangan pekerjaan. Selain itu bisa juga terjadi di karenakan
tingkah laku pasangan yang menambah kondisi yang ada semakin rumit. Faktor
lain, kenapa bisa terjadinya kekerasan pada anak adalah karena trauma masa
kecil orang tua tersebut. Mereka mungkin mengalami hal yang sama, entah itu
kekerasan fisik maupun perlakuan yang menyangkut psikis. Hal ini sangat erat
kaitannya, di karenakan trauma mendalam yang di alami mereka sehingga berdampak
kepada keluarganya sendiri. Sebenarnya inti penyebab utama dari masalah
kekerasan ini adalah lemahnya keimanan seseorang. That’s all.
Fenomena
ini pastinya akan memberikan dampak buruk bagi sang anak. Mereka akan tumbuh
menjadi pribadi yang tidak normal,
seperti cenderung melakukan perbuatan menyimpang, mempunyai rasa dendam,
bersikap kasar kepada orang laian atau mungkin justru cenderung menarik diri
dari lingkungannya di karenakan rasa rendah diri, tidak berguna, aib bagi
keluarga sampai hal yang ekstrim seperti penyalahgunaan obat dan alkohol atau depresi
berat yang bisa menyebabkan gangguan jiwa.
Menurutku, hal terpenting yang harus ada pada diri orang tua sebagai
orang dewasa yang paling dekat dengan merekaa adalah memiliki keimanan dan ilmu
agama yang baik, sehingga bisa mengajarkan dan memberi contoh yang baik juga
untuk anak-anak mereka. Satu lagi, kesadaran mereka para orang tua, bahwa anak
adalah anugerah, titipan dan amanah dari Allah yang harus di jaga, di lindungi
dan di perlakukan sebaik-baiknya, karena mereka akan di minta
pertanggungjawabannya kelak.
Bagi
para orang tua, apakah kalian akan merusak anak-anak kalian sendiri? Darah
daging sendiri? Mereka ada dan tercipta karena buah cinta kedua orang tuanya. Perhatikan
lingkungan pergaulan dan teman-teman sang anak, karena lingkungan juga
mempunyai pengaruh yang sangat besar terhadap sikap sang anak. Jangan pernah
menyia-nyiakan mereka, perlakukan dengan sebaik-baiknya, karena tanpa kalian
sadari, pribadi seseorang bisa terlihat dari anak-anaknya sendiri. Bagimana
anak-anak bersikap dan berperilaku, itu tidak akan jauh dari perlakuan dan
didikan orang tuanya. Jika anak kalian berbuat kesalahan, itu bukan salah
mereka sepenuhnya, tapi itu sudah jelas salah kalian, para orang tua.
By. Shanty
Wiryahaspati
Tidak ada komentar:
Posting Komentar