Sabtu, 12 Mei 2012

Pendidikan Atau Pengalaman Kerja?


Tahun demi tahun, semakin banyaknya mereka yang lulus dari universitas. Akan semakin banyaknya juga orang-orang yang mencari pekerjaan. Sebenarnya banyak pihak yang menyayangkan, bahwa orang-orang yang telah menyelesaikan pendidikannya, lebih memilih untuk bekerja kepada orang lain, tidak berpikir untuk mencoba usaha sendiri. Padahal sebenarnya, dengan membuka usaha sendiri, mereka bisa membantu orang-orang yang pendidikannya rendah di karenakan faktor ekonomi yang tidak memungkinkan bagi mereka untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.


Kita jangan pernah memandang sebelah mata dengan mereka yang berpendidikan rendah dan mempunyai pekerjaan yang menurut kebanyakan orang terlihat biasa. Padahal kalau di lihat-lihat, pendapatan mereka perbulan, jauh lebih besar dari mereka-mereka yang bekerja kantoran dengan penampilan rapi. Aku yakin, mereka tidak melanjutkan pendidikan bukan berarti karena tidak ingin, tapi kebanyakan di karenakan faktor ekonomi. Aku sangat yakin, setiap orang menginginkan kehidupan yang layak termasuk pendidikan. Walaupun terkadang pendidikan tinggi sangat menunjang untuk mendapatkan pekerjaan dengan pendapatan yang tinggi, tapi bukan berarti bagi mereka yang berpendidikan rendah menjadi pesimis untuk mengubah nasib hidupnya. Aku yakin masih banyak jalan selama mereka terus berusaha dan tidak mudah menyerah. Satu hasil penelitian dari kementrian bidang perindustrian, menunjukkan bahwa orang-orang sukses di Indonesia persentase lebih besarnya adalah mereka-mereka yang berpendidikan rendah. Hebat bukan? Ini suatu bukti bahwa mereka adalah orang-orang yang memiliki potensi yang besar dalam memajukan industry dan perdagangan di Indonesia, hanya sayangnya mereka tidak mempunyai kesempatan atau mungkin lebih tepatnya tidak di beri kesempatan untuk berkembang.

Ketimpangan atau ketidakadilan terhadap mereka yang mempunyai pendidikan rendah juga sangat jelas terlihat dalam perusahaan-perusahaan yang ada. Terkadang mereka di perlakukan tidak baik, tidak di hargai dan tidak jarang juga di permainkan karena kurangnya pengetahuan. Prihatin rasanya melihat realita kehidupan seperti itu. Seorang teman pernah bercerita kepadaku, ketika dia di terima di sebuah perusahaan yang tidak begitu besar, dia mempunyai teman kerja yang lulusan SMU. Sedangkan dia lulusan diploma. Sangat jelas terlihat perbedaan perlakuan kepada mereka. Ketika temanku yang baru bekerja selama 3 bulan selalu mendapatkan gaji tepat di tanggal 1 tiap bulannya, sedangkan temannya mendapatkan gajinya tidak tentu tanggalnya padahal sudah bekerja lebih lama, kurang lebih 1 tahun. Ini salah satu contoh perlakuan tidak adil di karenakan pendidikan. Mungkin sang pemilik merasa bisa memperlakukan karyawannya begitu karena pendidikannya yang rendah. Itu sangat tidak di anjurkan, walau bagaimanapun, semua karyawan harus di perlakukan secara adil.

Sepertinya salah satu contoh perlakuan tidak adil lainnya, ketika sebuah perusahaan lebih mengutamakan pendidikan tinggi di bandingkan pengalaman kerja ketika merekrut karyawan. Padahal menurutku, seseorang dengan pendidikan tinggi tidak menjamin mempunyai kinerja yang bagus, dan bisa saja mereka yang mempunyai pendidikan rendah namun punya pengalaman kerja bisa memberikan kontribusi yang jauh lebih baik kepada perusahaan di karenakan pengalaman kerja yang di milikinya. Mungkin perbedaannya, mereka yang berpendidikan tinggi punya ilmu pengetahuan yang lebih di bandingkan yang pendidikannya rendah, tapi belum tentu mempunyai pengalaman di bidang yang di jalaninya, sedangkan mereka yang sudah mempunyai pengalaman kerja setidaknya sudah lebih mengetahui seluk beluk bidang pekerjaan yang di kerjakannya. Bedanya lagi, pengalaman adalah ilmu yang tidak bisa di beli dan tidak bisa di dapatkan di sekolah ataupun universitas, karena semua orang yang baru mulai bekerja, tentunya tetap memulai dari nol, karena terkadang ilmu yang di dapat tidak sama dengan sistem yang ada pada setiap perusahaan.

Satu contoh yang terjadi pada salah satu sahabatku, di mana dia telah bekerja lebih dari 8 tahun dengan pengalaman kerja di bidang yang selama ini di jalaninya, tapi dia seorang lulusan SMU, tapi walaupun begitu yang aku tahu dia adalah seorang pekerja keras dan jujur. Di saat dia sudah tidak merasa nyaman dengan pekerjaannya dan memutuskan untuk mencari pekerjaan lain, dia mencoba melamar ke salah satu perusahaan yang ternyata sangat menomorsatukan pendidikan. Aku merasa prihatin mendengarnya, tapi aku yakin, dia akan mendapatkan pekerjaan yang jauh lebih baik dan lebih bisa menghargai pengalaman kerjanya. Yang terpenting adalah tetep berpikir positif kalau Allah akan selalu memberikan yang terbaik.

Andai saja perusahaan bisa bersikap lebih bijak dengan memberikan kesempatan kepada mereka-mereka yang mempunyai pengalaman kerja walaupun pendidikannya rendah. Kesempatan itu akan sangat membantunya untuk bisa mengubah nasib dan kehidupan mereka. Aku yakin mereka mempunyai kemauan yang besar untuk bisa memperbaiki kehidupannya, karena mereka menyadari dengan keterbatasan pendidikan yang di milikinya. Bagiku, seorang karyawan yang mempunyai loyalitas / kontribusi yang tinggi kepada perusahaan jauh lebih baik di bandingkan seribu karyawan yang tidak berpotensial. Jangan pernah memandang hanya dari satu sudut saja, pendidikan misalnya tapi lihatlah dari kinerja dan loyalitasnya.

Aku sangat yakin, perusahaan akan maju apabila di dalamnya terdapat orang-orang yang mempunyai kemauan keras untuk sukses, jujur dan memberikan loyalitas yang besar kepada perusahaannya. Jadi rasanya perusahaan dengan karyawan yang semuanya mempunyai pendidikan tinggi belum tentu bisa sukses dan maju, begitu juga dengan mereka yang mempunyai karyawan dengan pendidikan rendah, belum tentu juga tidak akan sukses. Selama terus berusaha dan berjuang, dan selalu menjalaninya dengan jujur, aku yakin Allah akan memberikan karunia-Nya.

By. Shanty Wiryahaspati




Tidak ada komentar:

Posting Komentar