Tahun
demi tahun, semakin banyaknya mereka yang lulus dari universitas. Akan semakin
banyaknya juga orang-orang yang mencari pekerjaan. Sebenarnya banyak pihak yang
menyayangkan, bahwa orang-orang yang telah menyelesaikan pendidikannya, lebih
memilih untuk bekerja kepada orang lain, tidak berpikir untuk mencoba usaha
sendiri. Padahal sebenarnya, dengan membuka usaha sendiri, mereka bisa membantu
orang-orang yang pendidikannya rendah di karenakan faktor ekonomi yang tidak
memungkinkan bagi mereka untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih
tinggi.
Kita
jangan pernah memandang sebelah mata dengan mereka yang berpendidikan rendah
dan mempunyai pekerjaan yang menurut kebanyakan orang terlihat biasa. Padahal
kalau di lihat-lihat, pendapatan mereka perbulan, jauh lebih besar dari
mereka-mereka yang bekerja kantoran dengan penampilan rapi. Aku yakin, mereka
tidak melanjutkan pendidikan bukan berarti karena tidak ingin, tapi kebanyakan
di karenakan faktor ekonomi. Aku sangat yakin, setiap orang menginginkan
kehidupan yang layak termasuk pendidikan. Walaupun terkadang pendidikan tinggi
sangat menunjang untuk mendapatkan pekerjaan dengan pendapatan yang tinggi,
tapi bukan berarti bagi mereka yang berpendidikan rendah menjadi pesimis untuk
mengubah nasib hidupnya. Aku yakin masih banyak jalan selama mereka terus
berusaha dan tidak mudah menyerah. Satu hasil penelitian dari kementrian bidang
perindustrian, menunjukkan bahwa orang-orang sukses di Indonesia persentase
lebih besarnya adalah mereka-mereka yang berpendidikan rendah. Hebat bukan? Ini
suatu bukti bahwa mereka adalah orang-orang yang memiliki potensi yang besar
dalam memajukan industry dan perdagangan di Indonesia, hanya sayangnya mereka
tidak mempunyai kesempatan atau mungkin lebih tepatnya tidak di beri kesempatan
untuk berkembang.
Ketimpangan
atau ketidakadilan terhadap mereka yang mempunyai pendidikan rendah juga sangat
jelas terlihat dalam perusahaan-perusahaan yang ada. Terkadang mereka di
perlakukan tidak baik, tidak di hargai dan tidak jarang juga di permainkan
karena kurangnya pengetahuan. Prihatin rasanya melihat realita kehidupan
seperti itu. Seorang teman pernah bercerita kepadaku, ketika dia di terima di
sebuah perusahaan yang tidak begitu besar, dia mempunyai teman kerja yang
lulusan SMU. Sedangkan dia lulusan diploma. Sangat jelas terlihat perbedaan
perlakuan kepada mereka. Ketika temanku yang baru bekerja selama 3 bulan selalu
mendapatkan gaji tepat di tanggal 1 tiap bulannya, sedangkan temannya
mendapatkan gajinya tidak tentu tanggalnya padahal sudah bekerja lebih lama,
kurang lebih 1 tahun. Ini salah satu contoh perlakuan tidak adil di karenakan
pendidikan. Mungkin sang pemilik merasa bisa memperlakukan karyawannya begitu
karena pendidikannya yang rendah. Itu sangat tidak di anjurkan, walau
bagaimanapun, semua karyawan harus di perlakukan secara adil.
Sepertinya
salah satu contoh perlakuan tidak adil lainnya, ketika sebuah perusahaan lebih
mengutamakan pendidikan tinggi di bandingkan pengalaman kerja ketika merekrut
karyawan. Padahal menurutku, seseorang dengan pendidikan tinggi tidak menjamin
mempunyai kinerja yang bagus, dan bisa saja mereka yang mempunyai pendidikan
rendah namun punya pengalaman kerja bisa memberikan kontribusi yang jauh lebih
baik kepada perusahaan di karenakan pengalaman kerja yang di milikinya. Mungkin
perbedaannya, mereka yang berpendidikan tinggi punya ilmu pengetahuan yang
lebih di bandingkan yang pendidikannya rendah, tapi belum tentu mempunyai
pengalaman di bidang yang di jalaninya, sedangkan mereka yang sudah mempunyai
pengalaman kerja setidaknya sudah lebih mengetahui seluk beluk bidang pekerjaan
yang di kerjakannya. Bedanya lagi, pengalaman adalah ilmu yang tidak bisa di
beli dan tidak bisa di dapatkan di sekolah ataupun universitas, karena semua
orang yang baru mulai bekerja, tentunya tetap memulai dari nol, karena
terkadang ilmu yang di dapat tidak sama dengan sistem yang ada pada setiap
perusahaan.
Satu
contoh yang terjadi pada salah satu sahabatku, di mana dia telah bekerja lebih dari 8 tahun dengan pengalaman kerja di bidang yang selama ini di jalaninya, tapi dia seorang lulusan SMU, tapi
walaupun begitu yang aku tahu dia adalah seorang pekerja keras dan jujur. Di
saat dia sudah tidak merasa nyaman dengan pekerjaannya dan memutuskan untuk
mencari pekerjaan lain, dia mencoba melamar ke salah satu perusahaan yang ternyata
sangat menomorsatukan pendidikan. Aku merasa prihatin mendengarnya, tapi aku
yakin, dia akan mendapatkan pekerjaan yang jauh lebih baik dan lebih bisa
menghargai pengalaman kerjanya. Yang terpenting adalah tetep berpikir positif
kalau Allah akan selalu memberikan yang terbaik.
Andai
saja perusahaan bisa bersikap lebih bijak dengan memberikan kesempatan kepada
mereka-mereka yang mempunyai pengalaman kerja walaupun pendidikannya rendah. Kesempatan
itu akan sangat membantunya untuk bisa mengubah nasib dan kehidupan mereka. Aku
yakin mereka mempunyai kemauan yang besar untuk bisa memperbaiki kehidupannya,
karena mereka menyadari dengan keterbatasan pendidikan yang di milikinya. Bagiku,
seorang karyawan yang mempunyai loyalitas / kontribusi yang tinggi kepada
perusahaan jauh lebih baik di bandingkan seribu karyawan yang tidak
berpotensial. Jangan pernah memandang hanya dari satu sudut saja, pendidikan
misalnya tapi lihatlah dari kinerja dan loyalitasnya.
Aku
sangat yakin, perusahaan akan maju apabila di dalamnya terdapat orang-orang
yang mempunyai kemauan keras untuk sukses, jujur dan memberikan loyalitas yang
besar kepada perusahaannya. Jadi rasanya perusahaan dengan karyawan yang
semuanya mempunyai pendidikan tinggi belum tentu bisa sukses dan maju, begitu
juga dengan mereka yang mempunyai karyawan dengan pendidikan rendah, belum
tentu juga tidak akan sukses. Selama terus berusaha dan berjuang, dan selalu
menjalaninya dengan jujur, aku yakin Allah akan memberikan karunia-Nya.
By. Shanty
Wiryahaspati
Tidak ada komentar:
Posting Komentar