Menikah…….setiap
orang pastinya ingin bertemu dengan jodohnya dan menikah. Menikah memang
sesuatu yang “terdengar dan terlihat” menyenangkan dan membahagiakan untuk sebagian
orang yang belum menikah, tapi ada juga mereka-mereka yang berpendapat dan
berfikir kalau menikah itu suatu kondisi yang “menakutkan” dan mengekang. Semua
kembali lagi pada pemahaman dan pemikiran tiap orang. Kalau aku sendiri
memandang pernikahan itu sebagai sesuatu yang baik dan positif, walaupun
sedikit ketakutan pastinya ada, karena
sering mendengar mereka-mereka yang sudah menikah bercerita kalau menikah itu
tidak seindah dan seenak yang di bayangkan. Ada yang shock karena sikap
pasangannya yang berubah drastic, ada juga yang kaget di karenakan kehidupannya
tidak semapan yang di harapkan. Belum lagi masalah kesetiaan yang jaman
sekarang sangat sulit di dapatkan dari pasangannya.
Walaupun
begitu, hal itu tidak menyurutkan keinginan dan niatku untuk menikah. Hanya
saja membuat aku menjadi lebih hati-hati dalam memilih pasangan. Bukan berarti
pilih-pilih harus yang tampan, kaya dan teman-temannya, tapi lebih ke
kepribadiannya. Kadang heran juga, ketika mereka yang sudah menikah seolah
“mempertanyakan” niat dan keinginanku untuk menikah. Ada yang berkata, “kenapa pengan cepet-cepet nikah? Nikah itu
ngga seindah yang di bayangkan dan di uraikan dalam buku-buku. Kenyataannya
lebih berat.” Aku sangat menyadar itu, berdasarkan pengalaman orang-orang yang
pernah bercerita kisah hidupnya tentang pernikahan maupun dari buku-buku yang
pernah aku baca, tapi tidak bisa menjadi alasan untuk menunda atau tidak
menikah seumur hidup, apalagi Allah sudah memberikan calon pendamping hidup
yang terbaik menurut-Nya.
Banyak
pengalaman dan pembelajaran yang sangat berharga, yang aku dapat dari cerita
orang lain maupun buku yang aku baca. Sedikit takut pasti ada, tapi aku
berusaha mengambil hikmahnya saja dan berharap hal yang baik bisa aku alami dan
yang buruk tidak aku alami. Aku sangat percaya akan “kekuatan” pikiran dan hati
kita, kalau kita berpikir dan hati kita merasakan hal-hal yang positifnya
tentang pernikahan, insha Allah yang akan terjadi nanti juga baik dan positif,
begitu juga kalau kita melakukan sebaliknya (berpikir negatif). Dari semua
cerita atau kisah nyata pernikahan orang-orang yang aku kenal yang “ternyata”
tidak sesuai dengan harapannya akan sebuah pernikahan dan membuatnya mengeluh
dan tdak bahagia, aku melihat banyak sekali penyebabnya, bisa dari pribadi
orang yang bersangkutan maupun “takdir” yang memang harus di alaminya. Namun
kebanyakan penyebab utamanya lebih ke pribadi orangnya.
Di
sini aku akan coba uraikan beberapa kasus yang sering terjadi setelah menikah. Kasus
yang pertama, tidak merasa bahagia karena ternyata cinta mereka “tidak cukup
kuat”. Kebanyakan hal itu terjadi pada mereka yang menikah yang di jodohkan dan
tidak ada cinta di dalamnya, menikah karena tuntutan dan paksaan orang lain
bukan karena keinginan dan kemantapan hatinya sendiri (karena faktor orang tua,
umur, gunjingan orang lain ataupun mengabaikan intuisinya). Maksudnya
mengabaikan intuisinya yaitu ketika hatinya merasa ragu, tidak yakin, tidak
mantap dengan calon pasangannya, atau ada hal-hal lain yang membuatnya ragu, namun
tetap menikah karena alasan-alasan tertentu. Tapi alasan yang satu ini, sangat
aku sayangkan karena setiap orang pastinya ingin menikah sekali seumur hidup.
Jadi tidak bisa main-main dengan keputusan kita. Hanya dengan istikharah kepada
Allah, kita akan menemukan jawaban yang terbaik apakah calon pasangan hidup
kita memang baik (terbaik) atau tidak untuk diri kita, agama kita dan masa
depan kita. Dari sebuah buku yang pernah aku baca, ternyata banyak sekali calon
pengantin yang tidak melakukannya karena merasa yakin dialah calon pendamping
hidup yang menurutnya terbaik. Ini menjadi pengalaman dan pembelajaran yang
berharga buatku.
Contoh
kasus yang kedua, tidak merasa bahagia karena ternyata pasangannya tidak bisa
memberikan kehidupan yang “layak” dalam hal materi, maupun rohani. Mereka
mengeluhkan pendapatan pasangannya tidak bisa mencukupi kehidupan dan
keinginannya. Dalam kasus ini, penyebab utama sepertinya rasa syukur. Memang
kewajiban utama pria ketika berumah tangga adalah mencari nafkah dan mencukup
kebutuhan keluarganya. Namun ketika mereka sudah berusaha dan bekerja keras
untuk memenuhinya, seorang istri harus mendukung dan mendoakannya semoga Allah
memberikan rizki-Nya yang halal melalui usaha dan kerja keras suaminya. Dan
satu hal yang penting juga untuk di sadari oleh seorang istri adalah “merubah”
gaya hidup yang berlebihan dan terlalu menuntut. Istri harus bisa hidup hemat,
bisa mengelola uang dengan baik, karena tidak sedikit juga istri yang “mencari”
pria lain yang mau dan bisa memenuhi kebutuhan dan keinginan materinya. Yakinlah
akan janji Allah yang akan mencukupi hidup hamba-hamba-Nya yang menikah, selama
mau berusaha, ikhtiar dan bersyukur.
Untuk
contoh kasus yang pertama dan kedua, menurutku kesalahan terbesarnya ada pada
pribadi masing-masing, kesalahan dalam mengambil keputusan maupun menentukan
pilihan calon pasangan hidupnya. Jangan menyalahkan orang lain ketika mengambil
keputusan atau memilih calon pendamping, karena apapun yang mereka katakan bisa
berakhir menjadi kebaikan atau keburukan bagi yang menjalani. Ikuti kata
hatimu, meminta petunjuk-Nya karena semua pilihan ada pada diri kita sendiri.
Meskipun Allah telah menentukan jodoh kita, tapi Allah tetap memberikan kita
pilihan dalam setiap hal kehidupan kita, termasuk pendamping hidup. Ketika
rumah tangga seseorang tidak bahagia, jangan pernah menyalahkan Allah akan
jodoh yang di terimanya, karena Allah dan Islam sudah mengajarkan dan
menyarankan kepada setiap hamba-Nya tentang memilih pasangan dan tentang
menjalani kehidupan rumah tangga.
Contoh
terakhir yang akan aku sampaikan di sini adalah ketika para suami tidak mau
bekerja sama dan membantu “pekerjaan” rumah tangga. Kadang heran, menikah itu kan
bisa di bilang jadi “partner” seumur hidup. Di sini mereka hidup bersama, bukan
sendiri-sendiri lagi seperti masih single. Aku tahu Islam telah menganjurkan
dan menentukan hak, kewajiban dan tanggung jawab untuk masing-masing (suami dan
istri). Aku sangat mengerti kalau tanggung jawab dan kewajiban utama suami
adalah mencari nafkah yang halal untuk keluarganya. Tapi, hal itu tidak
menjadikan mereka “menyerahkan” semuanya kepada istri untuk mengurus rumah, mau
itu pekerjaan rumah tangga ataupun mengurus anak. Rumah tangga ini kan mereka
berdua yang punya, jadi harus mereka berdua juga yang bekerja sama
menjalaninya. Banyak istri yang mengeluhkan ketika suaminya tidak mau membantu
sama sekali pekerjaan rumah ataupun urusan anak, karena menurut mereka itu
tanggung jawab dan kewajiban para istri.
Untuk
para suami, coba renungkan dan bayangkan jika kalian menmposisikan diri kalian
menjadi istri kalian, yang dengan kata lain harus membersihkan rumah, melayani
suami, mengurus anak, memasak dan lain-lain setiap harinya di waktu yang
bersamaan. Bayangkan, mampukah kalian melakukannya? Aku sebagai perempuan
memahami kewajiban dan tanggung jawab seorang istri walaupun aku belum menjadi
seorang istri saat ini. Tapi naluri seorang wanita tetaplah sama. Sadarlah para
suami, tidak mudah menjadi seorang Ibu Rumah Tangga. Walaupun terlihat dan
“terkesan” tidak hebat status atau profesi itu, tapi pada kenyataannya menjadi
ibu rumah tangga sejati tidaklah mudah, sangat sulit dan melelelahkan. Mereka
“bekerja” mengurus semuanya pekerjaan rumah tangga 24 jam non stop tanpa “di
gaji”. Mereka melakukannya karena tahu, mengerti kewajiban dan tanggung
jawabnya sebagai seorang istri sesuai dengan perintah Allah dan semata-mata
mengharapkan ridha-Nya. Wanita juga bisa mencari nafkah seperti pria, terlihat
dengan banyaknya wanita yang sukses dalam karir sekaligus rumah tangganya. Namun,
tidak semua pria bisa melakukan pekerjaan rumah tangga. Walaupun aku pernah
mendengar ada juga suami yang sangat telaten dalam mengurus rumah tangganya
setelah istrinya meninggal. Beliau tidak menikah lagi dan memutuskan
membesarkan anak-anaknya sendiri dan memposisikan dirinya sebagai ayah
sekaligus ibu bagi anak-anaknya. Salut banget deh dengernya.
Aku
yakin, setiap istri hanya ingin di hargai dan “di bantu” dalam mengurus rumah
tangga dan juga anak-anaknya. Bisa membantu melakukan pekerjaan rumah, karena
itu akan sangat mengurangi bebannya. Istri juga butuh istirahat dan butuh waktu
untuk dirinya sendiri. Kadang aku heran dengan mereka ataupun orang tua yang
berpikir, laki-laki tidak pantas mengerjakan pekerjaan rumah karena masalah
harga diri. Menurutku, dengan mau membantu dan bekerja sama mengerjakan
pekerjaan rumah tangga, hal itu tidak akan merendahkan para suami maupun
membuat mereka terlihat hina. Justru buatku itu adalah sikap yang mulia dan
bertanggung jawab, karena dia bisa menghargai istrinya dan mengerti kalau
istrinya membutuhkan bantuannya dalam mengurus semua pekerjaan rumah tangga. Menikah itu “bekerja sama”. Semoga semua contoh kasus ini bisa menjadi
pembelajaran untuk kita semua, termasuk untukku pribadi.
By. Shanty
Wiryahaspati

aku bukan cowo ideal seperti cerita di dongeng atau buku2, tapi aku akan berusaha semampuku untuk jadi suami yang tahu "porsi" dalam rumah tangga...
BalasHapusga ada suami/istri yang akan sempurna di mata manusia. Yang terpenting masing-masing tahu hak dan kewajibannya, terutama menjalaninya ridha karena Allah, insha Allah akan baik-baik saja. Makasih buat komentarnya :)
Hapus