Minggu, 10 Februari 2013

Menikah Itu “Bekerja Sama”




Menikah…….setiap orang pastinya ingin bertemu dengan jodohnya dan menikah. Menikah memang sesuatu yang “terdengar dan terlihat” menyenangkan dan membahagiakan untuk sebagian orang yang belum menikah, tapi ada juga mereka-mereka yang berpendapat dan berfikir kalau menikah itu suatu kondisi yang “menakutkan” dan mengekang. Semua kembali lagi pada pemahaman dan pemikiran tiap orang. Kalau aku sendiri memandang pernikahan itu sebagai sesuatu yang baik dan positif, walaupun sedikit ketakutan pastinya ada,  karena sering mendengar mereka-mereka yang sudah menikah bercerita kalau menikah itu tidak seindah dan seenak yang di bayangkan. Ada yang shock karena sikap pasangannya yang berubah drastic, ada juga yang kaget di karenakan kehidupannya tidak semapan yang di harapkan. Belum lagi masalah kesetiaan yang jaman sekarang sangat sulit di dapatkan dari pasangannya.

Walaupun begitu, hal itu tidak menyurutkan keinginan dan niatku untuk menikah. Hanya saja membuat aku menjadi lebih hati-hati dalam memilih pasangan. Bukan berarti pilih-pilih harus yang tampan, kaya dan teman-temannya, tapi lebih ke kepribadiannya. Kadang heran juga, ketika mereka yang sudah menikah seolah “mempertanyakan” niat dan keinginanku untuk menikah. Ada yang berkata, “kenapa pengan cepet-cepet nikah? Nikah itu ngga seindah yang di bayangkan dan di uraikan dalam buku-buku. Kenyataannya lebih berat.” Aku sangat menyadar itu, berdasarkan pengalaman orang-orang yang pernah bercerita kisah hidupnya tentang pernikahan maupun dari buku-buku yang pernah aku baca, tapi tidak bisa menjadi alasan untuk menunda atau tidak menikah seumur hidup, apalagi Allah sudah memberikan calon pendamping hidup yang terbaik menurut-Nya.

Banyak pengalaman dan pembelajaran yang sangat berharga, yang aku dapat dari cerita orang lain maupun buku yang aku baca. Sedikit takut pasti ada, tapi aku berusaha mengambil hikmahnya saja dan berharap hal yang baik bisa aku alami dan yang buruk tidak aku alami. Aku sangat percaya akan “kekuatan” pikiran dan hati kita, kalau kita berpikir dan hati kita merasakan hal-hal yang positifnya tentang pernikahan, insha Allah yang akan terjadi nanti juga baik dan positif, begitu juga kalau kita melakukan sebaliknya (berpikir negatif). Dari semua cerita atau kisah nyata pernikahan orang-orang yang aku kenal yang “ternyata” tidak sesuai dengan harapannya akan sebuah pernikahan dan membuatnya mengeluh dan tdak bahagia, aku melihat banyak sekali penyebabnya, bisa dari pribadi orang yang bersangkutan maupun “takdir” yang memang harus di alaminya. Namun kebanyakan penyebab utamanya lebih ke pribadi orangnya.

Di sini aku akan coba uraikan beberapa kasus yang sering terjadi setelah menikah. Kasus yang pertama, tidak merasa bahagia karena ternyata cinta mereka “tidak cukup kuat”. Kebanyakan hal itu terjadi pada mereka yang menikah yang di jodohkan dan tidak ada cinta di dalamnya, menikah karena tuntutan dan paksaan orang lain bukan karena keinginan dan kemantapan hatinya sendiri (karena faktor orang tua, umur, gunjingan orang lain ataupun mengabaikan intuisinya). Maksudnya mengabaikan intuisinya yaitu ketika hatinya merasa ragu, tidak yakin, tidak mantap dengan calon pasangannya, atau ada hal-hal lain yang membuatnya ragu, namun tetap menikah karena alasan-alasan tertentu. Tapi alasan yang satu ini, sangat aku sayangkan karena setiap orang pastinya ingin menikah sekali seumur hidup. Jadi tidak bisa main-main dengan keputusan kita. Hanya dengan istikharah kepada Allah, kita akan menemukan jawaban yang terbaik apakah calon pasangan hidup kita memang baik (terbaik) atau tidak untuk diri kita, agama kita dan masa depan kita. Dari sebuah buku yang pernah aku baca, ternyata banyak sekali calon pengantin yang tidak melakukannya karena merasa yakin dialah calon pendamping hidup yang menurutnya terbaik. Ini menjadi pengalaman dan pembelajaran yang berharga buatku.

Contoh kasus yang kedua, tidak merasa bahagia karena ternyata pasangannya tidak bisa memberikan kehidupan yang “layak” dalam hal materi, maupun rohani. Mereka mengeluhkan pendapatan pasangannya tidak bisa mencukupi kehidupan dan keinginannya. Dalam kasus ini, penyebab utama sepertinya rasa syukur. Memang kewajiban utama pria ketika berumah tangga adalah mencari nafkah dan mencukup kebutuhan keluarganya. Namun ketika mereka sudah berusaha dan bekerja keras untuk memenuhinya, seorang istri harus mendukung dan mendoakannya semoga Allah memberikan rizki-Nya yang halal melalui usaha dan kerja keras suaminya. Dan satu hal yang penting juga untuk di sadari oleh seorang istri adalah “merubah” gaya hidup yang berlebihan dan terlalu menuntut. Istri harus bisa hidup hemat, bisa mengelola uang dengan baik, karena tidak sedikit juga istri yang “mencari” pria lain yang mau dan bisa memenuhi kebutuhan dan keinginan materinya. Yakinlah akan janji Allah yang akan mencukupi hidup hamba-hamba-Nya yang menikah, selama mau berusaha, ikhtiar dan bersyukur.

Untuk contoh kasus yang pertama dan kedua, menurutku kesalahan terbesarnya ada pada pribadi masing-masing, kesalahan dalam mengambil keputusan maupun menentukan pilihan calon pasangan hidupnya. Jangan menyalahkan orang lain ketika mengambil keputusan atau memilih calon pendamping, karena apapun yang mereka katakan bisa berakhir menjadi kebaikan atau keburukan bagi yang menjalani. Ikuti kata hatimu, meminta petunjuk-Nya karena semua pilihan ada pada diri kita sendiri. Meskipun Allah telah menentukan jodoh kita, tapi Allah tetap memberikan kita pilihan dalam setiap hal kehidupan kita, termasuk pendamping hidup. Ketika rumah tangga seseorang tidak bahagia, jangan pernah menyalahkan Allah akan jodoh yang di terimanya, karena Allah dan Islam sudah mengajarkan dan menyarankan kepada setiap hamba-Nya tentang memilih pasangan dan tentang menjalani kehidupan rumah tangga.

Contoh terakhir yang akan aku sampaikan di sini adalah ketika para suami tidak mau bekerja sama dan membantu “pekerjaan” rumah tangga. Kadang heran, menikah itu kan bisa di bilang jadi “partner” seumur hidup. Di sini mereka hidup bersama, bukan sendiri-sendiri lagi seperti masih single. Aku tahu Islam telah menganjurkan dan menentukan hak, kewajiban dan tanggung jawab untuk masing-masing (suami dan istri). Aku sangat mengerti kalau tanggung jawab dan kewajiban utama suami adalah mencari nafkah yang halal untuk keluarganya. Tapi, hal itu tidak menjadikan mereka “menyerahkan” semuanya kepada istri untuk mengurus rumah, mau itu pekerjaan rumah tangga ataupun mengurus anak. Rumah tangga ini kan mereka berdua yang punya, jadi harus mereka berdua juga yang bekerja sama menjalaninya. Banyak istri yang mengeluhkan ketika suaminya tidak mau membantu sama sekali pekerjaan rumah ataupun urusan anak, karena menurut mereka itu tanggung jawab dan kewajiban para istri.

Untuk para suami, coba renungkan dan bayangkan jika kalian menmposisikan diri kalian menjadi istri kalian, yang dengan kata lain harus membersihkan rumah, melayani suami, mengurus anak, memasak dan lain-lain setiap harinya di waktu yang bersamaan. Bayangkan, mampukah kalian melakukannya? Aku sebagai perempuan memahami kewajiban dan tanggung jawab seorang istri walaupun aku belum menjadi seorang istri saat ini. Tapi naluri seorang wanita tetaplah sama. Sadarlah para suami, tidak mudah menjadi seorang Ibu Rumah Tangga. Walaupun terlihat dan “terkesan” tidak hebat status atau profesi itu, tapi pada kenyataannya menjadi ibu rumah tangga sejati tidaklah mudah, sangat sulit dan melelelahkan. Mereka “bekerja” mengurus semuanya pekerjaan rumah tangga 24 jam non stop tanpa “di gaji”. Mereka melakukannya karena tahu, mengerti kewajiban dan tanggung jawabnya sebagai seorang istri sesuai dengan perintah Allah dan semata-mata mengharapkan ridha-Nya. Wanita juga bisa mencari nafkah seperti pria, terlihat dengan banyaknya wanita yang sukses dalam karir sekaligus rumah tangganya. Namun, tidak semua pria bisa melakukan pekerjaan rumah tangga. Walaupun aku pernah mendengar ada juga suami yang sangat telaten dalam mengurus rumah tangganya setelah istrinya meninggal. Beliau tidak menikah lagi dan memutuskan membesarkan anak-anaknya sendiri dan memposisikan dirinya sebagai ayah sekaligus ibu bagi anak-anaknya. Salut banget deh dengernya.

Aku yakin, setiap istri hanya ingin di hargai dan “di bantu” dalam mengurus rumah tangga dan juga anak-anaknya. Bisa membantu melakukan pekerjaan rumah, karena itu akan sangat mengurangi bebannya. Istri juga butuh istirahat dan butuh waktu untuk dirinya sendiri. Kadang aku heran dengan mereka ataupun orang tua yang berpikir, laki-laki tidak pantas mengerjakan pekerjaan rumah karena masalah harga diri. Menurutku, dengan mau membantu dan bekerja sama mengerjakan pekerjaan rumah tangga, hal itu tidak akan merendahkan para suami maupun membuat mereka terlihat hina. Justru buatku itu adalah sikap yang mulia dan bertanggung jawab, karena dia bisa menghargai istrinya dan mengerti kalau istrinya membutuhkan bantuannya dalam mengurus semua pekerjaan rumah tangga. Menikah itu “bekerja sama”. Semoga semua contoh kasus ini bisa menjadi pembelajaran untuk kita semua, termasuk untukku pribadi.

By. Shanty Wiryahaspati

2 komentar:

  1. aku bukan cowo ideal seperti cerita di dongeng atau buku2, tapi aku akan berusaha semampuku untuk jadi suami yang tahu "porsi" dalam rumah tangga...

    BalasHapus
    Balasan
    1. ga ada suami/istri yang akan sempurna di mata manusia. Yang terpenting masing-masing tahu hak dan kewajibannya, terutama menjalaninya ridha karena Allah, insha Allah akan baik-baik saja. Makasih buat komentarnya :)

      Hapus