Kehidupan waktu demi waktu megalami perubahan dan perkembangan yang sangat pesat, setiap jaman akan mempunyai pola hidup dan masanya masing-masing. Kadang kondisi ini membuatku bertanya-tanya, jaman sekarang memang bebar-benar sudah berubah. Mulai dari perubahan cara bersikap, cara berpikir dan cara berekspresi. Tidak hanya untuk mereka yang sudah dewasa, tetapi juga anak-anak. Kadang aku merasa miris dan prihatin dengan perubahan sikap mereka terutama anak-anak yang menurutku mengalami “kemunduran”, mulai dari semakin berkurangnya rasa hormat terhadap orang tua dan guru, semakin “bebasnya” cara bergaul mereka dan pola hidup yang sangat mewah dan royal sampai-sampai sepertinya nilai uang tidak ada artinya dan hal itu membuat mereka tidak bisa menghargai makna “beratnya” mencari uang.
Sepertinya kesederhanaan menjadi sebuah fenomena yang sangat jarang sekali kita lihat dalam kehidupan anak-anak jaman sekarang, kecuali bagi mereka yang memang sudah “di haruskan” untuk hidup sederhana. Melihat kenyataan yang dengan jelas aku dengar bahkan aku lihat sendiri, menurutku kesalahan yang paling mendasar yaitu pola didik orang tua terhadap anaknya. Pengalaman yang aku lihat ini, benar-benar menjadi pembelajaran yang sangat berharga untukku ketika mempunyai anak kelak. Pada dasarnya, aku memang menyukai kesederhanaan. Mungkin ini adalah bentuk didikan orang tuaku yang memang mengajarkan dan menerapkan pola hidup sederhana semanjak aku masih kecil. Aku ingat, ketika menginginkan sesuatu, orang tua bilang “nanti kalau sudah ada uang ya”. Dulu reaksiku hanya bisa marah karena kesal, tanpa tahu alasannya. Mungkin sebenarnya yang terjadi itu, orang tua benar-benar sedang tidak mempunyai uang atau bisa saja ingin mengajarkan anak agar tidak bersikap boros dan lebih menghargai susahnya mencari uang.
Penyebab yang kebanyakan aku lihat, yaitu kesalahan orang tua yang mana mereka terkadang tidak menyadarinya yaitu, selalu memenuhi keinginan dan permintaan mereka, memberikan uang dengan jumlah yang cukup besar untuk ukuran seorang anak kecil, membiasakan diri membeli barang ataupun mengajak mereka ke tempat-tempat yang mewah. Sehingga, mereka berpikir uang itu selalu ada dan dampak terburuknya, pola didik itu membuat mereka terbiasa menjalani kehidupan yang royal.
Buatku pribadi, hal yang paling mudah namun terkadang sulit di lakukan orang tua adalah memberi contoh. Mereka harus menjadikan diri mereka panutan dan contoh yang baik untuk anak-anak mereka. Menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari selain memberikan pemahaman tentang makna kesederhanaan itu sendiri, menjelaskan bahwa banyak temen-temen seusianya yang harus bekerja untuk bisa mendapatkan uang. Mensyukuri setiap rejeki yang mereka punya dengan berbagi bersama anak-anak di panti asuhan. Intinya mengajarkan arti berbagi dan menghargai kehidupan. Sepertinya cara didik seperti itu, secara tidak langsung akan membentuk karakter anak menjadi sosok yang sederhana, penyayang dan tidak sombong ketika dewasa kelak.
Orang tua memang harus menerapkan sejak dini pola hidup sederhana demi kebaikan dan kebahagiaan anak itu sendiri. Seperti kata bijak yang mengatakan “ Kesederhanaan Awal Dari Kebahagiaan”.
Aku menulis tentang ini bukan untuk menasehati apalagi menyalahkan para orang tua dalam mendidik anak-anaknya. Ini adalah bentuk keprihatinanku dengan realita yang ada saat ini. Dan tentunya kondisi ini menjadi masukan, pembelajaran dan pengalaman yang pastinya sangat berharga untukku kelak. Semoga kita bisa menjadi contoh dan panutan yang bisa di banggakan anak-anak kita sekarang atau suatu hari nanti. Berpikirlah bahwa apa yang kita lakukan ini semata-mata demi kebaikan dan masa depan mereka. Jangan pernah berpikir, membahagiakan anak itu dengan memberikan dan memenuhi semua yang mereka inginkan karena sadarilah, apa yang kalian lakukan itu justru “menjerumuskan” mereka.
Anak tidak selalu membutuhkan materi….tapi yang lebih penting dan yang mereka butuhkan adalah kasih sayang dan perhatian, saat mereka merasa semua kebutuhan batinnya terpenuhi, mereka akan bisa menilai yang paling berharga baginya adalah keluarganya, mereka orang-orang yang akan selalu menyayanginya.
By. Shanty Wiryahaspati
Sumber : Lentera Hati

Tidak ada komentar:
Posting Komentar