Pagi ini ketika aku hendak berangkat bekerja, ada kejadian kecil yang menarik perhatianku di dalam mobil angkutan umum yang aku tumpangi. Naik angkutan umum sudah menjadi kebiasaanku setiap harinya. Kejadian bermula ketika mobil angkot yang aku tumpangi sedang berhenti, ada seorang wanita berjilbab yang naik dan dia memilih untuk duduk di kursi depan. Beberapa menit kemudian, terjadi pembicaraan antara wanita itu dengan sang supir. Awalnya aku tidak terlalu menghiraukan apa yang sedang mereka bicarakan. Lama kelamaan aku baru tahu kalau mereka sedang berbicara tentang sebuah accessories semacam peniti dengan manik-manik yang biasa di pakai oleh wanita yang memakai jilbab. Peniti ini tergantung di dekat kaca spion. Ternyata peniti itu adalah milik wanita berjilbab itu. Aku tidak tahu awalnya bagaimana, apakah wanita itu merasa mengenali peniti yang tergantung di dekat kaca ataukah sang supir yang masih mengenali bahwa wanita berjilbab yang baru naik itu adalah orang yang memang kehilangan peniti di angkot yang sedang di kendarainya waktu itu?
Pembicaraan di awali oleh sang supir, dia bertanya kepada wanita berjilbab itu, “neng, kalau tidak salah, ini peniti punya neng yang ketinggalan waktu terakhir naik angkot ini. Dulu saya menemukannya di kursi, karena peniti ini ujungnya tajam dan saya takut nanti ada yang mendudukinya, makanya saya simpan saja, di gantung sebagai hiasan dekat kaca spion. Saya menyimpannya, dengan harapan mungkin suatu hari nanti bertemu lagi sama orang yang sudah kehilangan peniti ini dan naik mobil ini lagi. Setiap saya menemukan barang yang tertinggal di angkot ini, saya selalu membawanya karena mungkin saja nanti ada penumpang yang menanyakan barangnya yang hilang. Sebenarnya bisa saja saya membuangnya, tapi tidak ada salahnya saya simpan saja dulu.” Kemudian wanita itu berkata. “ iya pak, dua hari yang lalu waktu sampai kantor saya baru sadar ternyata peniti saya jatuh, tapi saya tidak tahu hilang di mana. Saya juga tidak menyangka ternyata jatuh di angkot ini.” Sang supir menjawab, “ silahkan bawa saja penitinya.” Akhirnya peniti itu di ambil lagi oleh wanita itu sambil berkata, “ makasih pak.” Sang supir membalasnya dengan ucapan, “iya, sama-sama neng.”
Mungkin kejadian ini terlihat sangat biasa, hanya tentang sebuah peniti. Tapi saat itu aku berpikir, ternyata masih ada orang yang peduli dan jujur untuk sesuatu yang “kelihatannya” tidak penting. Kejujuran dan kepedulian seseorang tidak hanya bisa kita lihat untuk sesuatu yang besar ataupun mahal. Tapi untuk sesuatu yang kecil dan terlihat tidak berhargapun, kalau memang orang tersebut mempunyai hati yang jujur dan peduli, semua juga bisa terjadi.
Kepedulian terhadap orang lain merupakan bekal yang lebih baik dalam kehidupan anak-anak anda, daripada gelar kesarjanaan [Marian Wright Edelman]
Bersikap jujur terhadap orang lain adalah perlindungan terbaik bagi martabat dan hati nurani kita. Itulah jalan yang terbaik buat kita. -Guru Ching Hai.
By, Shanty Wiryahaspati

Tidak ada komentar:
Posting Komentar